Home / News

Minggu, 27 Februari 2022 - 23:30 WIB

Isu – Isu Pendidikan Yang Diangkat Kemendikbud Ristek dalam Presidensi G20

Dibaca 1,481 kali

Pada tahun 2022 Indonesia secara resmi memegang Presidensi Group of Twenty (G20) selama satu tahun. Yang dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 2021 sampai dengan 30 November 2022.

Group of Twenty atau sering disebut G20 merupakan sebuah forum kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa.

Negara yang termasuk anggota G20 adalah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.

“Recover Together, Recover Stronger” atau “Pulih Bersama” adalah tema utama yang akan diangkat dalam Presidensi G20 Indonesia. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) memimpin Kelompok Kerja Pendidikan G20 atau Education Working Group (EdWG), yang diketuai oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Iwan Syahril.

Permasalahan pendidikan akan dibahas oleh para pemimpin dunia di konferensi ini. Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim mengatakan, ada beberapa topik pendidikan yang akan dibahas dalam G20. Salah satunya adalah pemerataan akses pendidikan.

“Topik-topiknya pemerataan akses pendidikan, pemanfatatan teknologi, penguatan solidaritas, kerja sama dan juga masa depan pascapendemi,” kata Nadiem dalam NewsLine MetroTV, Jumat, 26 November 2021.

Berikut isu – isu pendidikan yang diangkat Kemendikbud Ristek untuk dibahas bersama oleh negara anggota G20 :

  1. Kualitas Pendidikan untuk Semua (Universal Quality Education)

Isu ini merupakan penegasan kembali komitmen Indonesia untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi semua golongan. “Jadi pendidikan ini inklusif untuk hal yang sangat luas, bukan hanya buat anak disabilitas, tapi juga kelompok-kelompok marjinal yang rentan,” ujar Iwan saat meninjau Sekretariat EdWG G20 di Kantor Kemendikbudristek, seperti dilansir dari laman Kemendikbud Ristek. Iwan mengatakan, komitmen tersebut juga menegaskan keberpihakan Indonesia dalam Sustainable Development Goal (SDG) 4 tahun 2030 tentang tujuan pendidikan global, di mana dunia membutuhkan pemulihan di sektor pendidikan pascapandemi Covid-19.

2. Teknologi Digital dalam Pendidikan (Digital Technologies in Education)

Menurut Iwan, telah terjadi akselerasi yang luar biasa dalam pemanfaatan teknologi digital di dunia pendidikan selama masa pandemi Covid-19. Iwan kemudian menyebut platform Guru Belajar dan Guru Berbagi yang sudah menjangkau lebih dari 70 persen guru di sekolah-sekolah di Indonesia. “Jadi guru-gurunya pada ikut komunitas Guru Belajar dan Guru Berbagi, bahkan 40 persen guru di daerah 3T juga pada ikut. Jadi yang tadinya kita pikir daerah 3T itu aksesnya sulit, ternyata ada resiliensi yang ditunjukkan guru-guru kita,” ujarnya. Selain itu, isu kedua ini juga akan membahas bagaimana teknologi digital bisa menjadi jawaban atas permasalahan akses, kualitas, dan keadilan sosial di bidang pendidikan.

Baca Juga:  3 Kabar Gembira Untuk Guru Sertifikasi dan Non Sertifikasi TK, SD, SMP, SMA di Awal April 2024

3. Solidaritas dan Kemitraan (Solidarity and Partnership)

Isu ini menegaskan komitmen Indonesia untuk bekerja sama dengan negara lain dan memiliki rasa solidaritas dalam suatu kelompok, dikaitkan dengan budaya gotong-royong bangsa Indonesia. “Jadi gotong-royong itu kan kearifan budaya Indonesia di mana jika kita melihat masalah di komunitas kita, dan meskipun itu bukan masalah kita, tapi kita tetap harus bantu. Jadi budaya ini juga ingin kita tonjolkan sekaligus mengangkat budaya Indonesia yang bisa kita tawarkan untuk jadi solusi dalam konteks reimagining for the future,” kata Iwan.

4. Masa Depan Dunia Kerja Pascapandemi Covid-19 (The Future of Work Post Covid-19) Isu pendidikan yang juga diangkat Indonesia dalam EdWG G20 adalah mengenai masa depan dunia kerja atau future of work. Menurut Iwan, prediksi mengenai kebutuhan di dunia kerja pascapandemi Covid-19 mengalami perubahan antara kebutuhan yang diperlukan untuk dunia masa kini dan di masa depan. Dunia kemudian harus berpikir ulang tentang bagaimana peran pendidikan dalam dunia kerja dan relevansinya, atau link and match, seperti yang diterapkan dalam pendidikan vokasi. “Mudah-mudahan isu – isu ini bisa kita kawal. Dan kemarin kita sudah melakukan meeting dengan Sherpa dan tanggapannya sangat baik dari berbagai negara yang sudah memberikan pandangan. Umumnya mereka melihat empat isu ini sangat relevan. Nanti akan kita tajamkan lagi. Mudah-mudahan kita bisa membuat sebuah kesepakatan antara menteri-menteri pendidikan tentang apa yang bisa kita lakukan atau call to action dalam menyikapi kondisi untuk recover together, recover stronger,” tutur Iwan.

Demikian informasi yang bisa diberikan, semoga bermanfaat yaa

Share :

Baca Juga

Edutainment

Asik! Kemdikbudristek Pastikan KIP Kuliah Dibuka Sepanjang Tahun

News

8 Hal Yang Harus Dicek Agar Tunjangan Profesi Guru Cair
guru ppk ingin pindah sekolah

News

Resmi Sesuai Undang-Undang, Masa Kerja PPPK Dipatok Hanya Sampai Segini….

News

Tips Cepat Naik Pangkat dan Golongan serta Macam Karya Ilmiah untuk Guru ASN

News

Rilis! Berikut Cara Instal dan Penggunaan Dapodik Versi 2023
PPG Prajabatan gelombang 2 tahun 2023

News

PPG Prajabatan Gelombang 2 Tahun 2023 Segera Dibuka, Berikut Timeline Lengkapnya!

News

Kisah Inspiratif Guru Atikah Menjadi PPPK 2023 di Ujung Pengabdiannya

News

Ada Informasi Penting Untuk Guru Non sertifikasi dari Dirjen GTK
Download Sertifikat Pendidikan Gratis