Home / News

Kamis, 16 Juni 2022 - 02:24 WIB

Mengatasi Fenomena Bullying pada Siswa di Sekolah

Dibaca 329 kali

Fenomena Bullying – Bagi masyarakat maupun peserta didik, sekolah dipandang sebagai tempat dan keluarga kedua setelah rumah. Idealnya, sekolah menjadi suatu tempat yang nyaman dan merupakan lingkungan yang menyenangkan.

Tujuannya agar peserta didik dapat senantiasa mendapatkan edukasi yang optimal dan semaksimal mungkin. Pun para peserta didik akan merasakan kebahagiaan di sekoalh sebab bisa bertemu dengan teman – temannya yang sudah dianggap sebagai saudara.

Lingkungan belajar yang kondusif dan tempat yang aman menjadikan peserta didik merasakan kenyamanan. Apalagi bila mendapatkan seorang guru maupun wali kelas yang dapat memahami karakter para peserta didik setiap detailnya serta memberikan beragam solusi.

Hanya saja, konsep kehidupan sekolah yang demikian tentu tidak dirasakan oleh semua peserta didik. Sebab masih banyak fakta yang menunjukkan bahwa peserta didik malah ingin pindah sekolah sebab merasa tak nyaman dengan lingkungannya.

Salah satu yang menjadi penyebab peserta didik berlaku demikian yakni karena adanya bullying atau perundungan. Bahkan, fenomena bullying semakin menjadi – jadi di era kecanggihan teknologi seperti sekarang. Seorang pelaku dapat dengan mudah melakukan perundungan tanpa harus menunjukkan muka dan menyembunyikan identitasnya.

Bullying dan Jenisnya

Berdasarkan pengertiannya, bullying merupakan padanan kata yang jika diartikan sama dengan perundungan.

Perundungan sendiri merupakan aktivitas atau semacam tindakan agresif yang menekan individu maupun pihak tertentu atau dalam lingkup sekolah yakni seringkali dirasakan oleh peserta didik. Perundungan biasanya terdiri dari beberapa aktivitas buruk misalnya mengusik, mengganggu, bahkan sampai menyusahkan. Adapun jenis perundungan bisa dipahami sebagai berikut :

Pertama, perundungan yang berbentuk fisik. Perundungan ini biasanya akan melibatkan hal fisik misalnya dengan melukai tubuh korban sehingga mengakibatkan dampak pendek bahkan sampai panjang.

Kedua, perundungan dalam bentuk verbal. Perundungan seperti ini bermula dari adanya tindakan atau perilaku seseorang yang senantiasa mengucapkan kata – kata maupun menuliskannya.

Aktivitas menggoda, memanggil dengan sebutan yang buruk atau bahkan tidak pantas bahkan mengancam juga merupakan perundungan verbal.

Ketiga, perundungan berjenis sosial. Perundungan seperti ini biasanya berbentuk penindasan yang senantiasa diupayakan untuk mengacau bahkan merusak hubungan atau reputasi dari individu. Tindakan ini biasanya meliputi tindakan berbohong, menyebar rumor negatif, mempermalukan bahkan sampai mengucilkan seseorang.

Keempat, perundungan berjenis dunia maya. Perundungan tersebut merupakan perundungan yang memanfaatkan teknologi digital. Salah satu bentuknya yakni dengan mengunggah gambar maupun video tak pantas, menyebar gosip maupun menggunakan keseluruhan informasi dari media sosial.

Kelima, perundungan berjenis seksual. Perundungan jenis ini biasanya merupakan tindakan berbahaya dan sering menyebabkan pada korban kehilangan kehormatan dengan berbagai aspek pornografi mulai dari panggilan nama yang vulgar dan perbuatan tak pantas lainnya.

Dampak Perundungan

Perundungan tentu akan memberikan dampak negatif baik berjangka pendek maupun berjangka panjang. Efek tersebut bergantung pada tingkat penerimaan individu dalam diri.

Ada sebagian peserta didik yang menerima dengan ikhlas dan sabar segala perundungan tersebut. Namun ada juga yang akhirnya malah menjadi down tapi di saat yang tak sama, mereka takut melapor sebab tengah mendapat ancaman.

Perundungan sendiri akan menjadikan peserta didik yang menjadi korban mengalami trauma maupun tertekan. Mereka malah merasa bersalah, gelisah, marah, takut dan dendam bahkan membenci diri sendiri.

Hal ini menyebabkan korban merasa sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Peserta didik yang mengalami perundungan kemungkinan akan lebih memilih untuk menghindar dan malah tidak masuk sekolah sebab ditakutkan kejadian tersebut terulang lagi. Bahkan sampai peserta didik yang menjadi korban harus pindah dari sekolah.

Dampak Perundungan bagi Pelaku

Jangan dikira, pengaruh tersebut hanya dirasa oleh korban. Tentu saja tidak. Pada dasarnya, pelaku juga ikut merasakannya.

Melansir dari beberapa penelitian para ahli psikologi, perundungan dapat meningkatkan level depresi dan penurunan capaian prestasi akademik.

Adanya perundungan akan menyebabkan korban kehilangan kemampuan dalam berpikir

sistematis maupun menganalisis diri serta berpotensi untuk menjadi seseorang yang berkontribusi sbagai penjahat dan kriminal di masa depan.

Malah berdasar dari data National Association of School Psychologist menegaskan bahwa perundungan dapat mengancam fisik maupun adanya tindakan pelecehan seksual sampai dengan kata – kata yang tak menyenangkan.

Di negeri, fenomena perundungan di sekolah cukup banyak terjadi. Sebagaimana data dari PISA di tahun 2018, data tersebut menunjukkan bahwa sebesar 41,1% peserta didik pernah mengalami perundungan. Singkatnya, berawal dari pembacaan data tersebut menjadikan indonesia ada di posisi kelima berkaitan dengan topik peserta didik yang menajdi korban perundungan.

Strategi Mengatasi Fenomena Perundungan di Sekolah

Perlu diingat, perundungan senantiasa terjadi pada semua orang termasuk peserta didik dan dapat dicegah maupun dihentikan oleh siapapun.

Jangan sampai perundungan terjadi berulang – ulang atau malah menjamur di kalangan peserta didik. Walaupun perundungan malah menjadi trend, tentu para guru harus menjadi para pionir perubahan sampai menjadikan perundungan tersebut sirna.

Di lingkungan sekolah, guru memiliki peran dalam mengatasi perundungan dan bertanggung jawab untuk ikut aktif terlibat dalam penyelesaiannya. Tidak semua memang bisa melakukan. Kemungkinan besar yang cocok untuk melakukannya yakni dengan melakukan konsultasi pada guru BK.

Mengutip dari UNICEF, terdapat beberapa tindakan yang bisa dilakukan sesuai dengan fenomena perundungan yang ada di sekolah.   Adapun perinciannya sebagai berikut :

Pertama, anda harus menanggapi perilaku perundungan dengan serius sehingga berkesan anda percaya dengan obrolan yang tersampaikan dari korban.

Kedua, usahakan anda dapat menanggapi dan merespon langsung kejadian tersebut secara serius.

Ketiga, cobalah untuk selalu menghargai dan menyampaikan terima kasih pada peserta didik tersebut sebab sudah memberikan pelaporan pada anda.

Keempat, cobalah untuk berusaha meyakinkan kepada korban atau peserta didik anda bahwa perundungan yang didapatkan bukan sepenuhnya salah korban tersebut.

Kelima, tunjukkan empati sehingga bisa menjadi teladan bagi peserta didik lainnya.

Keenam, cobalah untuk membantu peserta didik agar dapat membela dirinya sendiri minimal sampai mereka bisa menyampaikan bahwa mereka tidak ingin mendapat perundungan dari teman – temannya.

Ketujuh, cobalah tanyakan pada peserta didik terkait apa yang harus anda lakukan agar dia merasakan keamanan.

Kedelapan, cobalah untuk membicarakan permasalahan dengan peserta didik yang terlibat secara terpisah. Sebagai guru yang bijak, anda harus berusaha menghindari, menyalahkan, maupun mengkritik bahkan mengejek para pelaku di depan wajah mereka.

Kesembilan, anda harus berusaha untuk mengaktifkan peran dari adanya kelompok sebaya.  

Kesepuluh, anda bisa mengambil tindakan pada para pelaku bullying. Cobalah beritahu pada pelaku berikut orangtua mengenai perkembangan kasusnya.

Kesebelas, bila anda kesulitan dalam menyelesaikan perundungan tersebut, maka cobalah untuk mencari bantuan dari para pihak eksternal. Pemerintah sendiri telah memberikan kebijakan dengan pelayanan TePSA alias Telepon Pelayanan Sosial Anak.

Demikian ulasan mengenai fenomena bullying dan beberapa strategi mengatasinya di lingkungan sekolah yang akhir-akhir ini marak terjadi. Jangan sampai ada korban atau bahkan ada jiwa yang melayang akibat bullying di antara para siswa di sekolah. (*)

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(shd/shd)

Share :

Baca Juga

tugas kepala sekola

News

Kaitan Pengangkatan Honorer Dengan Pendataan Non ASN

News

Wajib Tau, 4 Kelompok Peserta PPPK yang Berhak Mendapatkan Afirmasi

News

Besaran THR Khusus Untuk Guru dan Dosen 2023
keuntungan menjadi pegawai negeri sipil

News

RESMI! Kuota 319.716 khusus Guru PPPK 2022

News

Ada Info Dari Kemdikbud Untuk Guru, Kepsek dan Tendik

News

Resmi! Gaji PNS Skema Single Salary Sudah Mulai Diterapkan
Ilustrasi Peserta PPG Dalam Jabatan 2023

News

MenPANRB Keluarkan SE, Guru Honorer Jadi Prioritas ASN 2023

News

Penting! Berikut Syarat Mencairkan Sertifikasi Triwulan 3