Home / News

Selasa, 17 Mei 2022 - 02:30 WIB

Mengenal Kurikulum Operasional dalam Dunia Pendidikan 

Dibaca 499 kali

Kurikulum Operasional – Dewasa ini, perkembangan pendidikan telah mengalami kemajuan pesat. Salah satunya yakni pada aspek pengembangan operasional. 

Idealnya, keseluruhan komponen yang sudah tersusun dan hadir dalam dunia pendidikan merupakan hasil karya dan inovasi dari kajian dan diskusi yang diadakan oleh sebagian pakar pendidikan. 

Salah satu faktor yang menjadikan mereka melakukan kajian disebabkan adanya problem dalam dunia pendidikan sehingga harus diselesaikan. Bisa jadi, kehadiran kurikulum menjadi peredam bagi problematika pendidikan hari ini. 

Komponen Utama pada Kurikulum Operasional

Untuk mengenal lebih dalam mengenai kurikulum operasional, berikut beberapa komponen yang perlu diketahui. Beberapa di antaranya yakni :

1.    Tujuan Kurikulum

Pertama, tujuan kurikulum seyogyanya sama yakni merupakan cerminan dari pandangan atau perspektif pendidikan nasional. 

nasional merujuk pada Undang – Undang No. 20 tahun 2003 terkait Sistem Pendidikan Nasional dimana dijelaskan bahwa “Pendidikan nasional seharusnya difungsikan sebagai sarana pengembangan kemampuan serta pembentukan watak sekaligus peradaban bangsa yang memiliki martabat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Pun pendidikan nasional bertujuan untuk pengembangan potensi agar dapat menjadi insan beriman dan memiliki ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, sehat, memiliki keilmuan, berakhlak mulia, kreatif, mandiri serta merupakan seorang warga negara yang bertanggung jawab dan demokratis. 

Tujuan pendidikan nasional juga terdapat pada Kebijakan Permendiknas No.22 tahun 2007 yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan dalam satuan pendidikan dasar dan menengah berdasar pada tujuan umum di antaranya :

Pertama, tujuan pendidikan dasar adalah suatu upaya untuk peletakan dasar aspek kecerdasan, pengetahuam, akhlak mulia, kepribadian serta adanya keterampilan agar bisa hidup mandiri dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Kedua, tujuan pendidikan jenjang menengah kejuruan yakni untuk peningkatan aspek kecerdasan, pengetahuan, akhlak mulia, kepribadian, keterampilan untuk hidup mandiri serta melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Ketiga, sedangkan tujuan pendidikan ketiga yakni mengacu pada pendidikan institusional yang kemudian dipaparkan dalam tujuan kurikuler. Yakni sebuah upaya tujuan pendidikan yang dinilai dari capaian setiap mata pelajaran yang sudah dikembangkan atau satuan pendidikan. 

2.    Komponen  

Komponen kedua yakni komponen materi pembelajaran. Untuk penentuannya sendiri berdasar pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, seorang pendidik memiliki tugas dan wewenang penuh untuk memutuskan materi pembelajaran yang akan diajarkan berdasar kompetensi dasar dan standar kompetensi yang akan dicapai pada setiap menjelang kegiatan pembelajaran. 

Dalam penerapannya, Anda sebagai guru perlu memerhatikan beberapa hal dalam penentuan materinya.

Pertama, pastikan materi bersifat validMateri yang dipilih juga merupakan bagian dari materi yang aktual, up to date, serta banyak memberikan kontribusi pemahaman terkait konten yang sedang diajarkan.  

Kedua, aspek tingkat kepentingan. Materi tersebut memang merupakan materi urgen yang harus dipilih dan dipelajari peserta didik. 

Pikirkan juga pada aspek penerimaan pembelajaran. Apakah para peserta didik dapat mempelajari materi tersebut di rumah tanpa adanya penjelasan atau masih memerlukan. Jika iya, sebenarnya materi tersebut termasuk materi yang penting untuk disampaikan. 

Ketiga, aspek kebermaknaan. Materi yang anda pilih perlu memberikan banyak kebermanfaatan baik secara akademis maupun non-akademis. Misalnya, manfaat akademis bermakna adanya pemberian dasar – dasar ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sudah dikembangkan lebih lanjut di jenjang pendidikan lanjutan.

Namun non-akademis lebih condong dalam pengembangan kecakapan hidup dan adanya kebutuhan sikap dalam kehidupan sehari – hari. 

Keempat, aspek kelayakan. Perlu diketahui bahwa materi yang dipilih memiliki kemungkinan untuk mudha dipahami dan dipelajari peserta didik.

Kelima, aspek ketertarikan minat. Selanjutnya, materi yang dijadikan konten pembelajaran harus bisa menarik minat serta dapat memotivasi para peserta didik untuk mempelajari dan mendalami konten pembelajaran yang diajarkan, bahkan sampai bisa menumbuhkan rasa keingintahuan. 

Baca Juga:  Kabar Terbaru, Tentang Kenaikan 8% Gaji Guru ASN Namun Akan Dirapel?

Dengan bermodal rasa keingintahuan tersebut, maka akan bisa menjadi pendorong bagi peserta didik untuk bisa saling mengembangkan kemampuan masing – masing. 

3.    Komponen

Komponen selanjutnya yakni strategi pembelajaran. Aspek ini menjadi sentral dan guru sebagai pemeran utama sangat perlu kooperatif. Kehadiran beragam strategi pembelajaran sekarang merupakan jawaban dari adanya permasalahan pendidikan yang sering menjadikan guru sebagai satu – satunya pemeran utama dalam kegiatan belajar mengajar. 

Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek masif yang sifatnya harus bisa menerima beberapa paparan informasi dari para guru. Hal ini selaras dengan awal penyampaian ilmu yang masih menggunakan teknik umum seperti penyajian yakni ekspositorik misal contohnya seminar atau ceramah. 

Kemudian, pembelajaran cenderung lebih tekstual. Kondisi strategi semacam ini mendapat reaksi maupun protes dari kalangan pembelajar ala progesivisme. Menurut kalangan mereka, peserta didik merupakan seseorang yang harus berperan dalam pembelajaran. 

Peserta didik dapat secara aktif menentukan materi dan tujuan belajar berdasar minat dan kebutuhan sekaligus dapat menentukan terkait langkah yang paling sesuai untuk perolehan materi serta pencapaian tujuan belajar. 

Penegasan dari kalangan progresivisme ini mendapat dukungan dari kalangan rekonstruksivisme yang memberikan penekanan pada pentingnya proses pembelajaran melalui adanya dinamika kelompok peserta didik. Para pakar rekonstruksivisime menjelaskan bahwa seharusnya pembelajaran bersifat kontekstual. 

Sedangkan , teknik pembelajaran yang digunakan tak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tapi harusnya lebih bersifat individual, memanfaatkan aspek kooperatif, langsung misalnya pembelajaran moduler, simulasi, diskusi dan masih banyak lagi jenisnya.

Jika hal ini diterapkan, maka peran guru hanya akan menjadi seorang motivator, pemandu dan fasilitator. 

Sebagai seorang motivator, maka guru akanterus berupaya untuk mendorong dan memberikan stimulasi peserta didik supaya dapat melakukan kegiatan dan berkontribusi aktif pada pembelajaran. 

Sedangkan sebagai seorang pemandu, maka sang guru akan senatiasa melakukan pembimbingan dengan senantiasa terus berusaha mengenal para peserta didik baik secara personal. 

Kemudian, sebagai seorang fasilitator, maka sang guru akan berupaya untuk menciptakan, mewujudkan serta menyediakan berbagai lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik. 

4.    Aspek Organisasi Kurikulum

Pada aspek organisasi kurikulum terdapat enam ragam perbedaan. Di antaranya yakni :

Pertama, mata pelajaran terpisah dimasudkan sebagai kurikulum yang terdiri dari sejumlah mata pelajaran terpisah – pisah. Diajarkan secara terpisah tanpa ada keterkaitan antara satu mapel dan lainnya. Masing – masing memiliki durasi tertentu tanpa melihat pertimbangan minat, kebutuhan serta kemampuan peserta didik. 

Kedua, mata pelajaran berkorelasi bertujuan untuk mengurangi kekurangan akibat adanya pemisahan mata pelajaran. Mekanisme pengajarannya yakni dengan menyampaikan keseluruhan pokok – pokok yang berkorelasi agar peserta didik dapat lebih memahami materi. 

Ketiga, bidang studi terpusat pada organisasi kurikulum yang mengumpulkan mata pelajaran sejenis dan memiliki ciri -ciri yang sama serta difungsikan dalam satu bidang pembelajaran. Salah satu mapel akan menjadi core subject, sementara yang lainnya akan mengikuti core tersebut. 

Keempat, program yang berpusat pada anak akan berorientasi pada kegiatan peserta didik bukan pada mata pelajarannya. 

Kelima, inti masalah merupakan program yang akan menjadikan amsalah bisa ditangani dan melibatkan peserta didik untuk menjadi pemecah masalah. 

Keenam, eclectic program berorientasi pada program yang menyeimbangkan antara organisasi kurikulum yang mana terpusat pada peserta didik dan mata pelajaran. 

Demikian ulasan mengenai kurikulum operasional dan beberapa komponen yang harus ada di dalamnya.  (*)

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan setiap bulan untuk sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(shd/shd)




Share :

Baca Juga

Kompetensi Guru

Kesempatan Mendapatkan Tunjangan Sertifikasi Terbuka Lebar Bagi Guru, Simak Informasinya Sekarang!

News

Aplikasi Fake GPS Cara Mudah Mengakali Absensi Online di Smartphone
guru ppk ingin pindah sekolah

News

Tidak Masuk Kategori Sertifikasi Tanpa Tes, Berikut Tes yang Harus Diikuti untuk Mendapatkan Sertifikat Pendidik 
guru ppk ingin pindah sekolah

News

Info Penting Untuk Kode P,TL dan PGSD

News

Kabar Gembira Untuk Guru dan Tendik Dari Kemdikbud

News

DPR RI Minta Pemda Beri Dukungan Anggaran MI, MTS dan MA

News

Penyerahan SK ASN PPPK Guru Juni 2023, Akankah Berkaitan Dengan Gaji? Berikut Informasinya

News

PNS Semakin Jaya! Tukin Naik, Gaji ke-13 Cair, Cuti Tidak Dipotong
Download Sertifikat Pendidikan Gratis