Home / News

Sabtu, 26 Februari 2022 - 21:20 WIB

Pembelajaran Daring, Siapa yang Repot?

Dibaca 314 kali

Pembelajaran daring, siapa yang repot? – Digitalisasi atau disrupsi, menjadi hal yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Segala hal dalam berbagai aspek kehidupan, hampir seluruhnya telah memanfaatkan teknologi. Apalagi sejak pandemi Covid 19 masuk ke Indonesia pada awal tahun 2020 yang lalu, memicu munculnya berbagai kebijakan pemerintah yang mengharuskan masyarakat untuk berdekatan setiap saat dengan teknologi.

Dalam dunia pendidikan misalnya. Skema pembelajaran jarak jauh yang dikeluarkan oleh pemerintah, mengharuskan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online atau daring. Sejak saat itu, berbagai platform media bermunculan, mulai dari e-learning, e-conference, dan lainnya. Memang hal ini memudahkan aktivitas pembelajaran ditengah kondisi saat ini. Akan tetapi, apakah sistem pembalajarn online ini mampu mempertahankan tujuan kegiatan belajar mengajar seperti tepat sasarannya materi yang disampaikan?

Melihat skema pembelajaran online tersebut, tentu semua jenjang pendidikan memanfaatkan teknologi dengan berbagai platform yang ada. Tidak hanya pelajar sekolah menengah atau perguruan tinggi, tapi dari tingkat paling dasar pun dituntut untuk mempraktekkannya. Pada bagian ini, bukankah dapat dibayangkan jika yang turut serta dalam beradaptasi dengan skema belajar online ini, bukan hanya pelajar? Melainkan guru sampai orang tua pelajar?

Merujuk pada pembicaraan siapa yang perlu beradaptasi dan siapa yang turut merasa direpotkan, hal tersebut tentu tidak terlepas dari sosok guru dan orang tua.

Sudut pandang guru dan orang tua tentang pembelajaran daring

Mari kita lihat dari sudut pandang guru. Berbicara tentang guru, tidak atau belum semua guru mampu beradaptasi dengan cepat mengenai penggunaan berbagai platform pembelajaran daring. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya guru dengan usia yang tidak muda. Artinya, diantara banyaknya guru yang ada di Indonesia, tidak semua guru dengan mudah melek akan teknologi. Mereka perlu pemahaman dan adaptasi dengan waktu yang tidak sebentar.

Banyak diantara guru yang kerepotan dalam menggunakan platform e-learning yang ada. Tidak jarang, hal tersebut membuat mereka memutuskan untuk mengajar hanya melalui grup-grup media komunikasi, atau sekadar memberikan soft file materi yang didalamnya berisi rangkuman mata pelajaran atau topik pelajaran hari itu. Hal ini, kerap menimbulkan keresahan sebagian besar pelajar. Sebab, mereka tidak menerima langsung penjelasan dari guru tersebut.

Hal demikian, bagi seorang guru pun, mereka merasa kurang maksimal dalam menjalankan amanah mengajar. Tapi apa boleh buat, mereka memerlukan waktu hingga akhirnya terbiasa dengan beraneka ragam platform e-learning.

Berikutnya, melihat sudut pandang orang tua. Jika berbicara orang tua dalam konteks pembelajaran daring, objek yang menjadi sasaran pendidikan ialah pelajar di tingkat sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak.

Bagi sebagian orang tua, pembelajaran daring bukanlah suatu hal yang merepotkan. Sebab, mereka telah memahami beberapa platform e-learning, meski belum paham sebenuhnya. Tetapi, bagi sebagian yang lain, aneka ragam teknologi yang digunakan dalam pembelajaran daring, membuat orang tua tersebut merasa direpotkan.

Apalagi bagi seorang ibu rumah tangga. Terkadang, mereka merasa bingung harus membagi waktu, meski secara alami tugas mereka adalah membimbing anak dalam memperoleh pendidikan. Khususnya pada kondisi

ini. Tidak jarang pula, mereka mengeluhkan tentang beberapa informasi yang mereka terima dari guru atau sekolah. Keluhan tersebut, sebagian besar adalah kurang informatifnya informasi yang disampaikan.

Di sisi lain, orang tua juga mengeluhkan tentang banyaknya guru yang hanya memberikan tugas. Minusnya, kondisi ini ditambah dengan anak yang mulai bosan dengan sistem belajar yang demikian.

Penjelasan dari hal-hal tersebut, kondisi positif dan negatifnya pembelajaran daring dirasakan oleh semua elemen. Pembelajaran daring, siapa yang direpotkan dan siapa yang diuntungkan, semua elemen masyarakat merasakannya.

Satu konsep yang bagus untuk diperhatikan adalah, perlunya penyesuaian dan penerimaan dari semua elemen atas skema pendidikan yang sedang berlaku. Langkah pembelajaran daring, tidak diberlakukan untuk merepotkan pihak manapun. Justru, dari skema pembelajaran daring, secara tidak langsung, masyarakat sedang berlatih masif dalam menggunakan teknologi. Apalagi, akan datang era-era baru yang memanfaatkan teknologi dimasa mendatang.

Jadi, sinergi semua elemen dalam menyongsong pendidikan saat ini, itulah yang diperlukan. Baik dalam kondisi pembelajaran daring, maupun tatap muka.

 

Mari bergabung menjadi member e-guru.id untuk mengakses pelatihan-pelatihan gratis. Klik LINK INI untuk mendaftar.

Penulis: Frizka Faeni Haryadi

Share :

Baca Juga

News

Penilaian Angka Kredit Guru dan Pengawas Madrasah Makin Ringkas Berkat Aplikasi E-PAK RUPAWAN

News

Terbaru! Berikut Ini 4 Perubahan dalam Uji Praktik SIM

News

Kemenag RI – LPDP Memberikan Kesempatan Beasiswa PPG 2022 untuk 10 Ribu Guru Binaan

News

Cek Mulai Sekarang! RILIS Menu Baru di PMM untuk Kandidat Peserta PPG Daljab 2024

News

5 Penyebab Tunjangan Profesi Guru Tak Kunjung Cair

News

Tidak Menerima Full, Berikut Informasi Semua Guru Penerima Tunjangan Sertifikasi Guru Tahun 2024 Terbaru

News

Wajib Tau! Berikut Alur dan Syarat Penyetaraan Ijazah Untuk Mendaftar CPNS 2023 Formasi CASN

News

Pengumuman Penting KEMDIKBUD, Kabar Gembira Bagi Guru Honorer dan Guru Swasta!