Home / Karya Inovatif

Senin, 20 Juni 2022 - 06:48 WIB

Pengembangan e-Learning dalam Pendidikan di Era Digital

Dibaca 702 kali

Pengembangan e-Learning – Di era kecanggihan teknologi, perkembangan pendidikan semakin mengalami kemajuan. Baik dari sisi kualitas guru, peserta didik maupun dokumen administrasi pendidikan.

Kondisi tersebut patut mendapatkan apresiasi sehingga para pakar pendidkan dan teknisi di negeri ini semakin bersemangat untuk mengembangkan sisi pendidikan yang perlu diperbarui.

Salah satu hasil karya anak bangsa yang juga patut diapresiasi yakni dengan kehadiran pengembangan e-Learning.

e– Learning adalah suatu inovasi di lingkup pendidikan sebagai implikasi dari kemajuan teknologi. Pembelajaran tersebut hadir sebagai wujud individu yang mulai memasuki era digital. Era digital menjadi pertanda bahwa segala informasi dapat diakses dengan mudah dan sifatnya tidak terbatas ruang maupun waktu.

Di sisi lain, guru, selaku pelaksana pendidikan juga turut memberikan kontribusinya di era pendidikan digital. Salah satu tugas yang perlu dilaksanakan yakni kepiawaian dalam penyusunan strategi pembelajaran agar peserta didik dapat mengikuti pembelajaran e-learning agar bisa berjalan optimal.

Dunia Digital bagi Lingkup Pendidikan

Guru perlu memahami bahwa eksistensi dunia digital sangat penting untuk bisa dijadikan sebagai landasan dalam mengaktifkan, membuka peluang maupun pengembangan e-learning. Dalam pelaksanaannya, pengembangan e-learning sejalan dengan klaim dari UNESCO yang menggagas 4 pilar pada pembelajaran untuk bisa digunakan pada abad ke-21.

Empat pilar yang dimaksud yakni pilar learn to know, learn to do, learn to be dan learn to live together. Harapannya, keempat pilar tersebut dapat menjadi solusi bagi segala permasalahan yang telah ada di lingkup pendidikan.

Selain itu, keempat pilar tersebut diharapkan dapat menjadi landasan lahirnya para peserta didik yang bisa menghasilkan karya dan berkontribusi pada lingkungan masyarakat.

Pengembangan e-learning, pada awalnya tidak sepesat hari ini. Pada mulanya, kehadiran dari kemajuan teknologi menjadi faktor utama munculnya beragam inovasi yang tercipta di lingkup pendidikan. Salah satunya yakni dengan pemanfaatan teknologi seperti penggunaan handphone.

Penggunaan handphone di zaman sekarang, bukan hanya sebagai alat komunikasi namun juga merupakan perangkat yang dapat dimanfaatkan sebagai perangkat e-learning. Penggunaannya pun tidak dibatasi ruang dan waktu.

Sehingga akan memudahkan para peserta didik dapat mengakses pembelajaran kapanpun dan di manapun. Maka dari itu, kebutuhan akan pembelajaran berbasis IT tak bisa terelakkan lagi.

Konsep e-learning yang pada mulanya asing, menjadi hal yang wajar bahkan mendapat tempat utama kala pandemi melanda.

Hal ini menjadikan pembelajaran bertransfromasi dari konvensional menjadi digital baik secara cover maupun kontennya. Pada saat ini, konsep tersebut sudah diterima hampir seluruh masyarakat di dunia. Hal ini terbukti dengan mulai banyak diterapkannya e-learning di berbagai lembaga pendidkan.

Guru di Era Digital

Sebagai guru anda perlu memahami bahwa era digital bisa berdampak pada dua sisi baik negatif maupun positif. Sisi negatifnya, jika para pengguna tidak bijak, maka teknologi yang menggenggam mereka. Sedangkan sisi positifnya, bila para pengguna dapat bijak dalam menggunakannya, maka teknologi yang mereka genggam serta memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

Proses belajar secara digital menyebabkan terjadinya fenomena pergeseran proses belajar mengajar konvensional menuju digital. Menurut Rosenberg, rincian pergeserannya sebagai berikut:

Pertama, pergeseran dari adanya pelatihan menuju aspek penampilan.

Kedua, pergeseran dari aspek pembelajaran di ruangan beralih menjadi kapan dan dimana saja.

Ketiga, pergeseran dari aspek penggunaan kertas beralih ke bentuk digital atau less-paper.

Keempat, pergeseran dari aspek fasilitas fisik beralih ke fasilitas jaringan kerja.

Kelima, pergeseran dari aspek waktu menuju siklus waktu yang nyata.

Hanya saja, secara realita terjadi ketidaksiapan pada sebagian guru sehingga pengembangan e-learning menjadi terhambat.

Ketidaksiapan para guru bukan karena gaptek namun juga karena banyaknya urusan administrasi yang perlu diselesaikan. Sehingga konsep belajar e-learning masih belum terlalu mendapatkan perhatian.

Fenomena tersebut akhirnya mengundang tanggapan dari berbagai pakar di negeri termasuk Suwarno dan Waras (2010:32-33) keduanya menegaskan bahwa pengembangan aspek profesionalitas guru dapat secara menerus dilakukan melalui beberapa cara yakni :

Pertama, pengembangan dapat dilakukan dengan senantiasa melakukan refleksi pada aspek yang sudah dilakukan.

Kedua, pengembangan dapat dilakukan dengan mengadakan interaksi informal antar rekan sejawat.

Ketiga, melakukan penjaringan terkait apa yang harus dilakukan.

Keempat, senantiasa melakukan berbagai penelitian tindakan baik secara individu maupun berkelompok.

Strategi Pengembangan e-Learning

Era digital seperti sekarang tentu sangat memungkinkan bagi khalayak memanfaatkan teknologi. Salah satunya yakni bagi aspek pendidikan dengan mengembangkan e-learning. Harapannya, pengembangan tersebut dapat membantu peserta didik untuk menyerap materi pembelajaran.

Membantu peningkatan peserta didik untuk berpartisipasi, meningkatkan kemampuan teknologi peserta didik pun juga mengajarkan untuk menggenggam teknologi sejak dini.

Selain itu, e-learning juga akan menjadi penyelamat bagi bumi sebab tak banyak lagi penggunaan kertas. Sebab semuanya sudah termasuk dalam rapotan atau laporan hasil akhir pembelajaran.

Berdasar penjelasan dari Koswara (2006), stratgei pembelajaran dalam e-learning dapat dilakukan sebagai berikut :

1.    Learning by doing

Hal pertama yang perlu dipahami yakni para peserta didik dapat mempelajari hal baru sambil melakukan sesuatu atau praktek terkait tema yang dibahas. Sederhananya, para peserta didik dapat melakukan simulasi. Dengan demikian, mereka dapat menyerap pembelajaran lebih optimal.

2.    Incidental learning

Kemudian, selain belajar sambil melakukan, para peserta didik juga dapat mempelajari materi secara tidak langsung. Maksudnya, dalam satu keterkaitan materi tersebut memang tidak semua akan dipelajari secara langsung. Sehingga, guru juga dapat menawarkan pada peserta didik terkait batas pengerjaannya saja.

3.    Learning by reflection

Strategi lainnya yakni mengajarkan peserta didik untuk bisa mengembangkan seluruh gagasan maupun ide berdasar subyek yang dibahas. Guru pun juga dapat mendorong peserta didik agar bisa mengembangkan ide sehingga ide tersebut dapat dijadikan bahan diskusi bersama antar guru dan peserta didik.

4.    SCase-based learning

Strategi selanjutnya case by learning. Strategi tersebut melatih peserta didik untuk mempelajari suatu kasus berdasar kasus yang sudah terjadi. Pembelajaran yang bisa diambil yakni peserta didik dapat ikut belajar dan menyerap informasi dari pakar terkait kasus yang sudah terjadi.

5.   Learning by exploring

Kemudian selanjutnya yakni strategi dengan melakukan eksplorasi sebanyak mungkin pada subyek yang akan dibahas atau dipelajari bersama.

Idealnya, peserta didik harus senantiasa diminta untuk bisa memahami suatu pembahasan materi berdasar caranya mereka sendiri dengan aktivitas eksplorasil. Sebisa mungkin guru hanya mengarahkan saja, sementara peserta didik lah yang memutuskan bagaimana gaya penyelesaian masalahnya.

Demikian ulasan mengenai pengembangan e-learning dan beberapa strategi penerapannya di kelas. Semoga dunia digital terus membaik apalagi dalam bidang aspek pendidikan. Besar harapannya, bila teknologi yang sekarang benar – benar dimanfaatkan untuk kegiatan positif seperti belajar dan meningkatkan keterampilan maupun pengetahuan.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(shd/shd)

Share :

Baca Juga

Karya Inovatif

Cara Mudah Membuat Dan Mengelola LKPD

Karya Inovatif

Membuat Best Practice untuk Kenaikan Pangkat

Karya Inovatif

Self Organized Learning Environments (SOLE)

Karya Inovatif

Pembelajaran Kooperatif, Model dan Jenis

Karya Inovatif

Mudah Mendapat Angka Kredit dari Publikasi Ilmiah dan Karya Inovatif

Karya Inovatif

Besaran Angka Kredit Karya Inovatif
tatap muka terbatas

Karya Inovatif

Tatap Muka Terbatas Anti Boring Dengan Google Workspace For Edu

Karya Inovatif

Cek Informasi Sertifikat! Diklat 40JP Karya Ilmiah Naik Pangkat