Home / Kesiswaan

Jumat, 27 Mei 2022 - 00:57 WIB

Peran Guru Menghadapi Fenomena Bullying di Sekolah

Dibaca 398 kali

Fenomena Bullying di Sekolah – Perundungan (Bullying) kerap kali menjadi momok yang menakutkan di berbagai lingkungan terutama lingkungan sekolah. Bahkan saking parahnya, bullying juga menjadi penyumbang motif atau alasan bunuh diri para generasi. 

Pada dasarnya, bullying sederhananya merupakan upaya atau perbuatan yang dilakukan seseorang dimanapun dan kapanpun waktunya baik secara verbal maupun non – verbal. 

Perbuatan atau tindakan mereka seringkali diidentikkan dengan adanya pemaksaan pada individu maupun kelompok yang dianggap lemah dan minoritas. 

Selain itu, fenomena ini bisa terjadi lantaran pelaku bullying menganggap dirinya merupakan seseorang atau kalangan berkuasa sehingga merasa wajar memerlakukan lawannya seperti demikian bahkan dengan tindakan di luar batas. 

Salah satu fenomena bullying yang sering terjadi yakni di lingkungan pendidikan. Walaupun dunia pendidikan sarat siswa – siswi berpendidikan, nyatanya pembelajaran yang selama ini diampuh tak menyelamatkan diri dari ketertarikan pada bullying. 

Walhasil, fenomena bullying di sekolah yang seharusnya merupakan sebuah penyakit, malah menjadi sebuah trend di lingkungan sekolah. Sebagian besar siswa tak segan melakukannya tanpa atau bahkan disadari oleh guru. Padahal, fenomena ini tentu memberikan berbagai dampak negatif baik pada pelaku maupun korban. 

Berikut beberapa dampak negatif dari bullying :

1.   Bagi Pelaku

Siswa yang gemar melakukan bullian terhadap temannya di masa depan akan menjadi seseorang yang mudah merendahkan dan tidak menghargai orang lain. 

Apalagi jika ia mendapati jika korban yang dibully tidak membalas dan terlihat lemah, maka seorang tersebut akan semakin menekankan bully-an. Jiwa pembully juga dibiarkan terus menerus juga akan menyakiti generasi. 

Malah kehadirannya hanya akan mengacaukan peradaban sebab jika pertimbangan menurutnya tidak sesuai, maka ketidaksesuaian tersebut akan membuat orang lain berpotensi untuk dibully. 

Selain itu, di masa depan, jika perilaku suka membully tidak segera disadari maka akan menjadikan dia sebagai calon yang mudah untuk mengjudge, dan melakukan tindakan kekerasan pada orang lain. Kondisi ini tentu tidak dibenarkan, sebab negeri idealnya berkarakter ramah tamah dan suka menolong. 

Biasanya anak yang suka melakukan tindakan bullying bisa jadi di masa lalu pernah menjadi korban atau bahkan mengalami kejadian yang serupa. Sehingga akhirnya bisa jadi ketika menjadi pelaku bullying merupakan bentuk balas dendam mereka. 

2.   Bagi Korban

Selain itu, dampak negatif juga akan dirasakan oleh korban bullying. Biasanya korban dapat mengalami gangguan mental, psikosomatik dan psikososial yang bisa berakibat menurunkan prestasi belajar mereka akan menurun. Gangguan bullying biasanya terdiri dari bentuk fisik, verbal bahkan sampai psikis. Selain itu, korban bullying juga rentan akan mengalami trauma sehingga bisa jadi di masa depan, mereka berubah menjadi pelaku bullying untuk membalaskan dendam pada orang sekitar yang notabene orang baru bagi mereka. 

Jenis – Jenis Bullying

Bullying terkategorikan pada beberapa jenis. Di antaranya adalah :

1.   Bullying Fisik

Jenis ini cenderung berkaitan dengan kondisi fisik seseorang. Misalnya, di lingkungan sekolah, para pelaku bullying secara sengaja melakukan tindakan mendorong, menarik, menyenggol, menarik, memukul dan tindakan yang mereka sengaja serta mengkhawatirkan sebab menyerang fisik. 

Di beberapa daerah, banyak tersebar fakta terkait kabar meninggalnya siswa akibat mendapat bullying dari teman – teman lingkungannya. 

2.   Bullying Verbal

Jenis bullying verbal merupakan tindakan yang terucap secara lisan. Pada awalnya mungkin sebatas mengejek atau menjuluki temannya. Terkadang di kelas juga terdapat sebagian besar perilaku siswa yang mengejek dengan memanggil orangtuanya dengan nada skeptis. 

Sindiran tersebut tentu akan menjadikan si korban tersinggung dan merasa tidak dihargai sebagai teman sekitarnya. 

Selain itu, setiap siswa punya tingkat kesedihan yang berbeda – beda. Ada yang merasa bahwa diejek atau dipanggil nama orangtuanya bukan tindakan yang menyakitkan hati. 

Namun ada pula yang tersinggung dengan hal tersebut. Malah tindakan ini dapat menjadikan si korban tak mau pergi sekolah atau takut berhadapan dengan teman – temannya.  

3.   Bullying Psikis

Jenis lainnya yakni bullying dengan psikis yang mana membutuhkan upaya untuk mempengaruhi orang lain. Misal, ada pelaku yang memprovokasi teman lainnya untuk tidak berkawan dengan korban yang mendapat perlakuan bullying. 

Sehingga ketika teman tersebut terpengaruh dengan pelaku, maka dia terikut dan menyindir serta melakukan ebrbagai hal yang menyinggung perasaan. Di zaman kecanggihan teknologi sekarang, mudah sekali membully psikis seseorang. Bisa dari memviralkan lewat sosmed kemudian akhirnya menjadikan si korban dipermalukan di depan umum. 

Peran Guru Hadapi Fenomena Bullying

Agar tindakan bullying tidak semakin merajalela, maka penting bagi seorang guru untuk menjadi penengah, pembimbing, penasehat bahkan ikut menjadi pengarah. 

Misalnya, guru mengarahkan siswa untuk menyadari kesalahannya bahwa bullying bukanlah tindakan yang dibenarkan. Berikut beberapa peran guru yang bisa dilakukan :

1.   Menindak Pelaku dengan Tegas

Setiap tindakan di sekolah yang bertentangan dengan norma dan prinsip kehidupan, tentu harus mendapat tindakan yang tegas. Selain guru BK, para guru wali kelas juga memiliki andil untuk menindak para siswanya yang berperilaku sudah di luar batas. 

Supaya siswa tidak terbiasa melakukan perilaku bullying, maka mulailah dari yang sepele. Jika ada yang mengejek, memanggil dengan nama orangtua, maka siswa seperti itu harus segera diingatkan. Jika guru terlalu santai dan membiarkan hal tersebut terjadi di depan mata, maka bisa dipastikan di luar lingkungan sekolah, siswa akan lebih brutal. 

Sebab kebiasaan yang terus – terusan dilakukan akan menjadikan siswa tersebut semakin terbiasa. Jika sudha demikian, maka siswa tersebut akan selalu mencari modle bullying terbaru yang malah berakibat fatal pada si korban. 

2.   Membuat Kampanye maupun Publiksai Stop Bullying

Selain menindak tegas, penghentian bullying juga bisa melalui intensitas sosialiasi terkait bahaya bullying. Sosialisasi tersebut dapat dimasukkan ke beragam aplikasi yang sering diakses oleh para siswa seperti Tik Tok, Instagram maupun Facebook. 

Selain itu, gerakan anti bullying juga dapat menjaid tindakan nyata yang bisa dipogramkan sekolah demi terwujudnya lingkungan sekolah yang nyaman dan bebas bullying. 

3.   Mengawasi dan Mengadakan Pelatihan Anti Bullying

Mengobati karakter suka membully, bukanlah hal yang mudah. Sebab bisa jadi keinginan untuk menjatuhkan, memukul, mengejek seseorang merupakan keinginan yang alamiah. 

Jika sudah begini, maka sekolah dapat memberikan fasilitas mentoring pada para pelaku serta melakukan monitoring. Bagi korban, guru dapat membantu untuk menumbuhkan motivasi dalam dirinya agar mereka tidak terlihat lemah di depan teman – temannya. 

Tentu ini akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Selain itu, penting bagi guru untuk memonitoring para korban bullying agar tidak sampai melakukan bullying kepada temannya yang lain ketika berada di lingkungan baru. 

4.   Mencarikan Bantuan Psikolog

Korban bullying akut biasanya membutuhkan lebih banyak bantuan daripada sekedar motivasi dari sang guru. Oleh sebab itu, penting bagi guru untuk jenis kesedihan serta sudah seberapa lama korban merasakan bully-an. 

Jika sudah terlalu lama dan sampai berujung membuat siswa tidak nyaman beraktivitas, maka pelru bantuan ke psikolog agar jiwanya tidak merasa tertekan. 

Nah, demikian ulasan mengenai peran fenomena bullying di sekolah serta peran guru dalam mengatasi hal tersebut. 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(shd/shd)




Share :

Baca Juga

Kesiswaan

Mengetahui Pentingnya Pertemuan Orang Tua Murid ke Sekolah

Kesiswaan

3 Tipe Gaya Belajar Siswa yang Guru Harus Tahu

Kesiswaan

Pentingnya Penerapan Pendekatan STEM di Sekolah

Kesiswaan

Mengenal Aplikasi Asesmenpedia dan AKM Kelas

Kesiswaan

Memahami Kecerdasan Intelektual Siswa Agar Guru Tak Salah Bertindak

Kesiswaan

Cara Mengatasi Victim Mentality Syndrome pada Peserta Didik

Kesiswaan

Perkembangan dan Kesejahteraan Anak

Kesiswaan

Yuk, Pahami Learning Loss Agar Dapat Segera Dicegah Sejak Dini