Home / News / Opini

Rabu, 2 Maret 2022 - 14:55 WIB

Problematika Pendidikan di Indonesia

Dibaca 4,404 kali

Problematika Pendidikan di Indonesia – Pendidikan merupakan salah satu wujud usaha sadar guna mencerdaskan kehidupan bangsa, sebuah cita-cita bangsa yang mulia untuk menuntun generasi penerusnya.

Problematika pendidikan di Indonesia cukup ditindaklanjuti dan segera ditangani. Dibandingkan dengan Negara superpower, dari segi pendidikan Indonesia masih dikatakan tertinggal.

Meskipun demikian, bukan berarti Indonesia tidak memiliki harapan. Nyatanya Indonesia era Soekarno digadang-gadang sebagai Macan Asia yang disegani.

Problematika yang muncul pada ranah pendidikan di Indonesia semakin kompleks, dimana permasalahan pendidikan muncul seiring perkembangan zaman dan berganti-gantinya kebijakan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan pemerintah.

Problematika pendidikan di Indonesia memang kompleks. Dimana permasalahan yang muncul cukup mengganggu dalam rangka memaksimalkan di dunia pendidikan.

Sumber daya manusia yang rendah membuat kemajuan negeri menjadi terhambat. Pasalnya, mau sebanyak apa pun sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, tidak akan berpengaruh pada petumbuhan bangsa apabila tidak dikelola oleh orang-orang yang tepat.

Tanpa adanya pendidikan yang berkualitas, cita-cita menjadi negara yang maju hanyalah sebuah angan-angan.

Untuk lebih jelasnya berikut adalah maca-macam problematika pendidikan yang ada di Indonesia:

Biaya Pendidikan yang Mahal

Stereotip masyarakat yang sulit diubah yakni pendidikan di Indonesia yang mahal, menyebabkan banyak anak di Indonesia terpaksa putus sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Dari hal tersebut banyak generasi penerus bangsa tidak dapat mengeyam bangku pendidikan dengan maksimal. Itu yang menyebabkan sebuah problematika pendidikan di Indonesia.

Banyak dari kalangan masyarakat menengah ke bawah yang mengalami kesulitan dalam membiayai pendidikan anaknya. Dikarenakan pendidikan di Indonesia yang mahal.

Meski digadang-gadang bahwa pendidikan di Indonesia gratis, tapi nyatanta tidak semua masyarakat menengah ke bawah menerima dampak baiknya.

Tidak semua masyarakat menengah ke bawah bisa mendapatkan pendidikan yang gratis, banyak dari mereka yang terpaksa untuk memutuskan pendidikan anaknya. Dikarenakan kurang biaya atau tidak ada biaya yang didesak dengan biaya sekolah yang mahal.

Sehingga terjadilah problematika pendidikan yang menekan tidak adanya kesejahteraan pendidikan di Indonesia yang menyeluruh.

Kurang Tersedianya Dana Pendidikan

Ketika membahas seputar dana, hal ini berkaitan dengan problematika pendidikan yang sebelumnya.

Bukan hanya biaya pendidikan di lembaga formal maupun informal. Biaya untuk membayar properti dan fasilitas seperti buku, alat tulis, seragam, dan transportasi juga termasuk ke dalamnya.

Tak hanya itu, bagi kalangan yang mengalami kesulitan ekonomi, mereka lebih memilih bekerja untuk memenuhi biaya hidup yang semakin tinggi ketimbang meneruskan pendidikan.

Sebenarnya, pemerintah telah menyusun rencana pendidikan gratis dan program Wajib Belajar 12 Tahun untuk mengatasinya.

Namun, permasalahan pendidikan di Indonesia terkait dana ternyata tidak bisa diselesaikan semudah itu. Hal ini disebabkan karena penyebaran alokasi dana program pendidikan yang tidak tersebar secara merata.

Belum lagi, menurut HSBC Global Report 2017, Indonesia merupakan salah satu negara dengan biaya pendidikan termahal di dunia.

Kurangnya Tenaga Pendidik Terampil

Kurangnya tenaga pendidik terampil menjadi salah satu kasus problematika pendidikan di Indonesia. Tidak seluruh guru sanggup mengajar modul yang sesuai dengan kompetensi pendidikan di Indonesia.

Kurangnya tenaga pendidik terampil menjadi salah satu problematika pendidikan di Indonesia. Tidak semua guru mampu mengajar materi yang sesuai kompetensi masing-masing.

Menurut Global Education Monitoring (GEM) Report 2016 oleh UNESCO, pendidikan di Indonesia menempati urutan ke-10 dan urutan terakhir untuk kualitas guru dari 14 negara berkembang.

Selain itu, total guru meningkat secara signifikan, yaitu 382 persen atau 3 juta lebih pada sekitar tahun 1999 hingga 2000.

Jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah peserta didik yang berkisar 17 persen saja. Ditilik dari jumlah guru sebanyak itu pun, masih ada 52 persen guru yang belum mempunyai sertifikat profesi dan 25 persen yang belum memenuhi kualifikasi akademik.

Minimnya Bahan Ajar Peserta Didik

Problematika pendidikan di Indonesia yang berikutnya adalah kurangnya bahan ajar peserta didik. Demi meningkatkan kualitas belajar, murid sudah sepatutnya memperoleh buku pelajaran atau lembar latihan soal.

Tidak adanya perpustakaan atau bahan belajar gratis juga dapat menghambat proses pembelajaran. Seharusnya, bantuan berupa bahan belajar diberikan lebih banyak ke wilayah-wilayah yang dengan masyarakat kurang mampu.

Bukan itu saja, gurupun juga sama memerlukan bahan ajar yang dengan materi yang berkualitas dan sesuai kurikulum terbaru sedang berlaku.

Jika tenaga pendidik memakai bahan ajar yang ketinggalan zaman, tentu kegiatan mengajar menjadi kurang maksimal. Ini akan berpengaruh pada proses penyerapan ilmu para murid.

Fasilitas Pendidikan yang Belum Merata

Problematika pendidikan di Indonesia terkait fasilitas. Fasilitas yang dimaksud mencakup ruang belajar dengan segala isinya. Tidak hanya harus lengkap, fasilitas juga harus memadai.

Beberapa contoh fasilitas pendidikan yang perlu disediakan, misalnya, papan tulis, meja, kursi, perkakas laboratorium, atau alat elektronik. Bayangkan jika fasilitas tersebut rusak, pasti akan mengganggu proses belajar mengajar.

Adapun permasalahan fasilitas yang berkaitan dengan kemajuan teknologi. Meskipun sekarang murid dapat belajar secara digital, hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmatinya.

Murid yang berasal dari keluarga kurang mampu bahkan belum bisa menerima fasilitas esensial yang memadai. Permasalahan seperti inilah yang harus menjadi fokus pemerintah dalam negeri.

Kurangnya Perhatian Pendidikan untuk Kelompok Difabel

Problematika pendidikan di Indonesia tidak banyak dijadikan sorotan adalah masalah pendidikan bagi kelompok difabel. Ternyata masih banyak kelompok difabel yang kesulitan dalam mencari sekolah inklusi.

Itu berarti masih sedikit sekolah-sekolah inklusi bagi mereka. Satu sisi, sekolah inklusi secara tidak langsung juga mengkotak-kotakan dan semakin tereksklusi dari realitas sosial.

Kendala yang sering dihadapi bagi difabel ketika memutuskan sekolah umum, mereka terkendala dari pembangunan sekolah yang tidak ramah untuk di fable.

Misalnya tidak ada jalan khusus difabel yang menggunakan sepatu roda atau pintu kurang representative bagi difabel. Belum lagi masalah buku-buku pelajaran yang dikemas dalam huruf braille.

 

Namun, seperti yang kita ketahui bahwa selama ini pergantian kurikulum masih mengadopsi kurikulum negara lain yang dianggap berhasil dalam pendidikannya, sehingga selalu berganti-ganti.

Tidak hanya faktor di atas namun hal-hal di bawah ini juga perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan di Indonesia, seperti:

Ujian Nasional atau UN

Ujian Nasional atau UN – Dimana, ujian nasional tidak lagi menimbulkan efek positif kepada siswa, guru sampai kepala sekolah. Hal ini dikarenakan pemerataan standar kualitas dan tingkat pemahaman untuk ujian nasional diseluruh Indonesia disamakan.

Tanpa memandang dan menilik lebih dalam lagi terkait kemampuan peserta didik dilapangan, baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan.

Yang kita ketahui sendiri, bahwasannya di Indonesia untuk pendidikan disetiap daerah bagi sumberdaya manusianya memiliki kapasitas dan kapabilitasnya sendiri masing-masing. Kita juga mengetahui mana daerah yang terpencil dan mudah diakses.

Akan tetapi hal tersebut masih lepas dari jangkauan pemerintah, guna memenuhi cita-cita bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sarana dan Prasarana Sekolah – Kurangnya perhatian pemerintah untuk pemerataan sarana dan prasarana di seluruh penjuru Indonesia, dibuktikan dengan masih adanya instansi pendidikan di Indonesia yang tertinggal dan minim dengan fasilitas pendidikan.

Kesenjangan Pendidikan – Kesenjangan pendidikan yang ada di Indonesia dikarenakan akses dan kondisi geografis tempat di Indonesia yang berbeda-beda.

Membentuk sebuah kesenjangan dimana instansi di daerah pusat lebih terperhatikan dibandingkan dengan daerah yang jauh dari pusat.

Mahalnya Biaya Pendidikan – Pemerintah harusnya mewujudkan cita-cita bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penerapan E-learning – Masih banyak orang tua yang gaptek sehingga pembelajaran berbasis e-learning tidak berjalan dengan baik di Indonesia.

 

Sekian dari penulis, besar harapannya apa yang sudah ditulis bermanfaat untuk semua pihak. Khususnya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Terima kasih.

 

 

Penulis: Galih Pambudi

Share :

Baca Juga

News

Cek Sekarang! Rilisan Terbaru Jumlah Siswa SK Nominasi dan Dana PIP Kemdikbud Tahun 2023

News

Manfaat Peningkatan Soft Skill Guru Baru

News

Sangat Mudah! Berikut Cara Mendapat NUPTK Secara Resmi, Cek Syarat dan Ketentuan Berikut

News

Bocoran Gaji Single Salary PNS, Tertinggi Capai Nominal Segini…

News

Tenaga Honorer Tidak Dihapus! Jokowi Perintahkan Ini ke MenpanRB
jenis asesmen kurikulum merdeka

News

Classpoint pada Kurikulum Merdeka, Trobosan Pembelajaran Interaktif

News

Ini Solusi Mendikbud Ristek Bagi Guru Honorer Agar Diangkat Tahun 2023, Simak Selengkapnya!

News

TPG Triwulan I Tak Kunjung Cair, Ternyata Ini Penyebabnya