Home / Opini

Senin, 20 Juni 2022 - 14:12 WIB

Urgensi Literasi Digital Bagi Gen-Z

Dibaca 1,075 kali

Literasi Digital – Hingga  saat  ini,  kemampuan digital  di  kalangan  anak  muda masih  dikatakan  cukup rendah. Hal ini terlihat dari cara remaja mencari informasi.Remaja tidak menyadari kredibilitas sumber dari konten-konten yang mereka ambil, tetapi hanya isu-isu yang mereka butuhkan.

Hal ini menunjukkan kurangnya daya kritis di kalangan anak muda. Salah satu penyebab meningkatnya informasi hoaks, cyberbullying, pencemaran nama baik, dan hatespeech adalah karena rendahnya   literasi digital.

Istilah literasi digital semakin banyak dibaca dan didengar belakangan ini, terutama dalam berita-berita dari situs web pemerintah bahkan tahun 2021 kemarin pemerintah melalui Kemkominfo sangat masif-masifnya mengadakan webinar literasi digital.

Menurut Douglas A.J. Belshaw, ada delapan faktor kunci dalam meningkatkan literasi digital, antara lain memahami budaya dalam dunia digital, kognitif atau keterampilan berpikir dalam mengevaluasi konten, unsur konstruktif atau inovatif, komunikasi, unsur kemandirian yang bertanggungjawab, kreativitas, faktor penting dalam menangani konten, serta tanggung jawab  sosial. Jika kita memiliki kedelapan faktor tersebut, kemampuan digital kita sudah  dapat dikatakan tinggi, di mana kita tidak akan mudah dipengaruhi melalui hoax, ekspresi jahat, cyberbullying, dan bahkan penipuan.

Generasi Z adalah generasi yang lahir dan hidup di era digital yang berkembang pesat. Oleh karena itu, Gen-Z   akrab dengan teknologi digital seperti teknologi informasi, teknologi komunikasi, dan internet tentunya. Pada saat ini, era Gen-Z yaitu mereka yang berusia 10-24 tahun. Dengan kata lain, Generasi Z adalah   remaja. Dan   menurut survei APJII 2019-2020, remaja-remaja inilah yang memiliki penetrasi internet tertinggi di Indonesia. Namun apakah para remaja dan Gen-Z ini memiliki   literasi digital yang tinggi? Jelas, penelitian telah menunjukkan bahwa Generasi Z dikategorikan lemah dalam kemampuan digital.

Tentu saja, tanggung jawab untuk ini tidak hanya terletak pada Gen-Z, tetapi juga pada pemerintah,  sosial,  ilmuan,  aktivis,  dan  pemangku  kepentingan  di  masyarakat.  Agar remaja mendapatkan tingkat literasi digital yang ideal, diperlukan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan. Ukuran ini sudah ada,  yakni melalui  Indeks  Literasi Digital  yang diluncurkan UNESCO pada 2018.

Halaman Selanjutnya

Kemampuan Indeks Literasi Digital

Share :

Baca Juga

Media Mengajar

Kualitas Pendidikan Indonesia, Guru Dapat Meningkatkannya!

Opini

Memahami UU Sistem Pendidikan Nasional

Media Mengajar

Strategi Pembelajaran E-Learning di Era Digital

Edutainment

7 Cara Mencapai Kesuksesan Pada Siswa

News

Sulit Mempelajari Kurikulum Merdeka? Berikut 4 Cara Mudah Mempelajari Kurikulum Merdeka di Platform Merdeka Mengajar

Opini

Pergantian Kurikulum Merdeka sebagai Pembelajaran Berbasis Projek

News

Tips Menghadapi Penilaian Akhir Semester Bagi Guru dan Peserta Didik

News

Soal Wawancara PPPK PPG Dalam Jabatan 2022