Home / News

Jumat, 1 April 2022 - 16:43 WIB

Mengenal Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)

Dibaca 3,737 kali

Model pembelajaran kontekstual atau Contextual teaching learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang membantu pendidik dalam mengkaitkan antara maeri pembelajaran dengan kehidupan nyata serta mendorong peserta didik menghubungkan pengetahuannya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Komalasari (2012) Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)  merupakan suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar peserta didik untuk mencari, mengelola, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat konkret dan mengaitkan dengan kehidupan nyata peserta didik .

Dalam proses pembelajaran CTL terdapat tujuh komponen yaitu :

  1. Konstruktivisme (constructivisme),

Konstruktivisme merupakan landasan filosofis (berpikir) pendekatan CTL. Kontruktivisme menekankan tumbuhnya pemahaman individu secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan dan pengalaman belajar.

  1. Menemukan  (inquiry),

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Kegiatan ini diawali dengan pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh peserta didik. Langkah-langkah kegiatan inquiry yaitu merumuskan masalah, mengamati atau melakukan observasi, menganalisis dan menyajikan hasil, dan mengomunikasikan hasilnya pada pihak lain (Trianto, 2007)

  1. Bertanya (questioning),

Bertanya (Questioning) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL). Menurut Trianto (2007) dalam pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) peran bertanya sangat penting, pendidik tidak menyampaikan informasi begitu saja tetapi memancing peserta didik untuk dapat menemukannya sendiri. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan pendidik untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir peserta didik (Muslich, 2011: 44).

  1. Masyarakat belajar (learning comunity),

Konsep masyarakat belajar (learning community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Konsep belajar dalam kelompok seperti ini memungkinkan peserta didik untuk dapat bertukar pengetahuan, pengalaman dan berbagi ide antara yang satu dengan yang, antara yang tahu dengan yang belum tahu.

  1. Pemodelan (modelling),

Pemodelan maksudnya ada model yang bisa di tiru dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu. Dalam pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), pendidik bukan satu-satunya model. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau pendidik memberi contoh cara mengerjakan sesuatu.

  1. Refleksi (reflection),

Refleksi merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari dengan cara menpendidiktkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui. Dalam pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), pendidik memberikan kesempatan pada peserta didik untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah disampaikannya setiap berakhir proses pembelajaran (Trianto, 2007).

  1. penilaian sebenarnya (authentic assesment).

Assesment adalah proses pengumpulan data yang dapat digunakan sebagai gambaran perkembangan belajar peserta didik. Pembelajaran yang benar sudah seharusnya ditekankan pada upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir pembelajaran (Trianto, 2007).

Karakteristik Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Beberapa item yang menjadi karakteristik pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut :

  • Melaksanakan komunikasi yang komunikatif (making meaningfull conection)

Peserta didik memposisikan diri sebagai individu yang belajar aktif dalam mengembangkan minat, individu yang dapat bekerja mandiri atau kerja kelompok, dan individu yang dapat belajar sambil berbuat (Laerning by doing).

  • Melakukan aktivitas-aktivitas yang signifikan (doing significan work).

Peserta didik mengkaitkan informasi/materi yang diperoleh didalam kelas dan berbagai konteks dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.

  • Belajar dengan pengaturan sendiri (self-regulated learning).

Peserta didik melakukan kegiatan yang signifikan : ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya atau hasil yang sifatnya nyata.

  • Berkerjasama (colaborating).

Pendidik dan peserta didik berkolaborasi secara efektif dalam kelompok, Pendidik dan peserta didik memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

  • Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking).

Peserta didik dapat berpikir ke tingkat yang lebih tinggi, kritis dan kreatif dengan menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah,membuat keputusan dan menggunakan logika dan bukti-bukti.

  • Mengasuh atau memelihara pribadi peserta didik (nurturing the individual).

Peserta didik memelihara pribadinya dengan mengetahui,  memberi perhatian, memberi harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri walaupun peserta didik membutuhkan dukungan orang lain.

  • Mencapai standar yang tinggi (reaching highsstandard).

Agar peserta mencapai mencapai standar yang tinggi, maka pendidik harus mengidentifikasi tujuan dan memotivasi peserta didik untuk mencapainya.

  • Dengan penilaian autentik (using autentic assessment).

Untuk tujuan yang baik peserta didik menerapkan pengetahuan akademik dalan dunia nyata.

Kegiatan dan strategi pembeajaran kontekstual (CTL) berupa kombinasi dari kegiatan kegiatan berikut ini :

  1. Pembelajaran otentik (authentic instruktion) merupakan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berpikir secara kritis dan memiliki ketrampilan memecahkan masalah.
  2. Pembelajaran berbasis inquiri (inquiry basad learning) adalah strategi pembelajaran dengan metode-metode sains.
  3. Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), adalah pendekatan pembelajaran dengan menggunakam masalah dalam kehidupan nyata atau sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar kritis dan trampil memecahkan masalah dam mendapat konsep utama dari suatu mata pelajaran.
  4. Pembelajaran layanan (serve learning), adalah metode pembelajaran yang menggabungkan layanan masyarakat dengan struktur sekolah untuk merefleksikan layanan, menekan hubungan antara layanan yang dialami dan pembelajaran akademik di sekolah.

Kelebihan dari model pembelajaran CTL

  1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga peserta didik terlibat aktif dalam PBM.
  2. Peserta didik dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan pendidik dapat lebih kreatif
  3. Menyadarkan peserta didik tentang apa yang mereka pelajari.
  4. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan peserta didik tidak ditentukan oleh pendidik.
  5. Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
  6. Membantu peserta didik bekerja dengan efektif dalam kelompok.
  7. Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.

Kelemahan dari model pembelajaran CTL

  1. Dalam pemilihan informasi atau materi  dikelas didasarkan pada kebutuhan  peserta didik, namun dalam suatu kelas tingkat kemampuan peserta didiknya berbeda-beda sehingga pendidik akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya peserta didik tidak sama.
  2. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang lumayan lama dalam PBM.
  3. Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi dan peserta didik yang memiliki kemampuan rendah, sehingga dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi peserta didik yang memiliki kemampuan yang rendah.
  4. Bagi peserta didik yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan peserta didik tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri. Jadi peserta didik yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
  5. Tidak setiap peserta didik dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
  6. Kemampuan setiap peserta didik berbeda-beda, dan peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lisan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
  7. Pengetahuan yang didapat oleh setiap peserta didik akan berbeda-beda dan tidak merata.
  8. Peran pendidik tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran pendidik hanya sebagai pengarah dan pembimbing. Model ini lebih menuntut peserta didik untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan

Demikian informasi mengenai model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Semoga dapat bermanfaat!

 

Share :

Baca Juga

News

Jam Kerja PNS dan PPPK Terbaru Berkurang? Ini Penjelasannya

News

Update Terbaru Pencairan Tunjangan Sertifikasi Triwulan 4, Cek Daerah Anda

News

Implementasi Metode Gamifikasi pada Platform Kurikulum Merdeka

News

Ada Info Dari Kemdikbud Untuk Guru, Kepsek dan Tendik
tugas kepala sekola

News

Kriteria Dan Tanggal Pendaftaran Calon Guru Penggerak

Media Mengajar

Aplikasi Tik Tok Sebagai Media Pembelajaran Yang Menarik di Masa Pandemi
Pendidikan Profesi Guru

News

Beasiswa ADiK Disabilitas 2022 Dibuka, Biaya Pendidikan hingga Rp 12 Juta

News

Perhatikan, PEMDA YANG KONTRAK SK PPPK KURANG DARI 5 TAHUN