Home / Metode Pembelajaran

Kamis, 19 Mei 2022 - 01:39 WIB

Model Pembelajaran Production Based Training untuk SMK

Dibaca 892 kali

Production Based Training – Dewasa ini, cetakan generasi semakin terlihat kegemilangannya. Jargon “SMK Bisa” semakin mendarah daging dan berhasil mengikuti berbagai ajang perlombaan maupun baik secara nasional maupun internasional. 

Salah satu faktor yang mempengaruhi hal di atas yakni dari segi para , lingkungan sekolah, kurikulum, strategi dan model pembelajaran yang digunakan selama Kegiatan Mengajar (KBM) berlangsung. 

Strategi dan model pembelajaran yang digunakan tentu berbeda dengan pengajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA). Biasanya, para peserta didik yang mengikuti jenjang SMA lebih cenderung memiliki keinginan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi (PT). 

Sedangkan generasi SMK lebih memiliki kecenderungan untuk terjun ke dunia kerja untuk mengasah hard skill dan soft skillmereka. Kecenderungan tersebut juga bisa saja terbentuk dari pola pembelajaran yang sudah diterapkan oleh para di satuan tertentu. 

Salah satu strategi dan model pembelajaran yang direkomendasikan jenjang SMK yakni kehadiran Model Pembelajaran Production Based Training atau biasa dikenal dengan pembelajaran berbasis pelatihan produksi. 

Apa itu Model Pembelajaran Production Based Training?

Semakin bertambahnya tahun, ternyata juga selaras dengan keadaan dunia pendidikan yang senantiasa mengalami kemajuan di bidang inovasi dan kreasi. Salah satu buktinya yakni dengan kehadiran model belajar Production Based Training (PBT). Model ini merupakan sebuah upaya dalam proses kegiatan belajar mengajar sekaligus pelatihan yang terintegrasikan dengan rangkaian aktivitas produksi. Model ini sangat sesuai dengan tipe dan karakteristik pendidikan di jenjang SMK. 

Pada pelaksanaannya, model belajar ini akan banyak memberikan peserta didik berbagai pengalaman belajar dengan atmosfir kontekstual berdasar realita. Karena jenjangnya SMK, maka pengalaman yang didapatkan para peserta didik lebih berkaitan dengan berbagai aktivitas kerja industri. Serangkaian aktivitas yang dimaksud yakni aktivitas pelaksanaan, / pengendalian mutu sekaligus langkah pada aktivitas perencanaan pasca produksi. 

Berdasar pakar pendidikan Joyce and Weil (1978) mengklaim bahwa model belajar PBT adalah suatu upaya untuk membentuk kerangka konseptual pada proses bimbingan pembelajaran yang tersusun secara sistematis. 

Hal tersebut bertujuan untuk bisa meraih target dan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang diinginkan nantinya akan melibatkan aspek tata bahasa, prinsip respons, sistem soal dan sistem pendukung. 

Tujuan Model Pembelajaran PBT

Setiap strategi dan mdoel yang diterapkan oleh keseluruhan peserta didik tentu memiliki tujuan tertentu. Hal ini agar para pendidik tidak sekedar berjalan apa adanya pada saat mengawali kegiatan pembelajaran. 

Bayangkan saja, jika pendidik tidak memiliki tujuan pada saat menerapkan model dan strateginya, lantas bagaimana teknis pengukuran kemampuan peserta didik? Maka dari itu, penting untuk memahami tujuan pembelajaran PBT. 

Pertama, PBT dinilai sebagai upaya persiapan peserta didik untuk memiliki keahlian dan dalam pekerjaan tertentu. Biasanya akan selalu serupa dengan segala kompetensi teknik diri dan urgensitas organisasi kerja. 

Kedua, penerapan PBT di sekolah akan menjadikan sekolah khususnya satuan pendidikan kejuruan ikut berperan dan bertugas sebagai sarana sekaligus hal yang memacu peningkatan ekonomi. Salah satu caranya yakni lulus kualifikasi saat menekuni dunia industri melalui beragam pelatihan khususnya semacam pemberdayaan potensi di wilayah masing – masing. 

Fokus penerapannya yakni pada kemampuan dan potensi peserta didik, tingkat kebutuhan untuk mencetak beragam lulusan yang profesonal, serta daya relevansi yang maksimal. Tentu, keseluruhan fokus tersebut akan disesuaikan dengan prinsip efisiensi dan efektifitas. 

Penerapan PBT di Jenjang SMK

Model belajar PBT sangat cocok untuk diterapkan di jenjang SMK sebab mereka akan banyak mendapat pengalaman belajar sesuai dengan bidang yang mereka geluti di jurusan agar sudah mahir saat terjun ke dunia industri. 

Ke depan, penerapan PBT akan lebih memfokuskan diri pada aspek efisensi, optimalisasi dan kelestarian. Tentu hal tersebut akan menjadi sarana untuk bisa menggambarkan adanya suatu pola agribisnis terpadu dan mengutamakan nilai – nilai kependidikan maupun bisnis. 

Baca Juga:  Selamat! Honorer Akan Peroleh Uang Pensiunan, Ini Penjelasan MenPAN-RB

Menurut pengamat pendidikan Hadiwaratama (2008) mengungkapkan bahwa satuan pendidikan maupun kelas yang akan menerapkannya haruslah memiliki persiapan baik dari pemahaman maupun beragam peralatan yang digunakan. Maksudnya yakni perlu adanya penyediaan seperti alat mesin dengan skala produksi yang mampu menyamai atau serupa dengan sop industri meski peralatan serta mesinnya hanya lebih kreatif, efektif dan efisien.

Menurut Gustafon(2003) menyampaikan bahwa model belajar PBT memiliki beberapa karakteristik. Di antaranya yakni : 

Pertama, penerapan PBT bisa dilakukan di kelas, jika memang keberadaan produk pembelajarannya dibutuhkan.

Kedua, penerapan PBT menyebabkan terjadinya proses uji coba serta pengulangan (revisi) sampai akhirnya hasil produk menjadi sempurna. 

Ketiga, dunia pendidikan harus menyadari urgensitas kehadiran bahwa produk tersebut dapat digunakan oleh beragam pengelola pembelajaran. 

Pada awalnya, memang mungkin pembelajaran PBT tak mudah untuk diterapkan. Sebab perlu adanya beberapa pembiasaan. Apalagi jika harus diterapkan di jenjang SMK yang notabene masih baru membangun dan membranding diri.

Ciri – Ciri Model Pembelajaran Production Based Training

Selain karakteristiknya, berikut ciri – ciri yang bisa dipelajari: 

Pertama, pembelajaran PBT memerlukan eksistensi bahan supaya bisa digunakan pada latihan praktik. Bahan ini nantinya akan menjadi komponen yang sengaja dirancang dan mengintegrasikan maupun mengakomodasikan tingkat kesulitan yang bisa ditemui di dunia industri.

Kedua, biasanya pembelajaran PBT memerlukan bahan latihan yang memiliki karakteristik tidak berubah. Pun, bahan latihan tidak mengharuskan adanya sebuah produk yang bisa digunakan atau dari suku cadang tertentu. 

Ketiga, bahan latihan biasanya dapat digunakan untuk kegiatan simulasi dari adanya proses, bentuk maupun tingkat kesulitan pada aspek pekerjaan. 

Keempat, biasanya hasil dari latihan merupakan sebagian produk yang belum bisa diperjualbelikan.  

Kelima, pendalaman pada aspek materi tertentu bisa didapatkan dari proses latihan yang dijalankan secara terus menerus sehingga para peserta didik dapat melatih keahliannya. Pun teknologi yang mereka gunakan dapat bersifat modern atau bahkan konvensional.

Langkah Pembelajaran atau Sintaks PBT

Untuk menerapkan PBT di kelas, maka terdapat beberapa tahapan atau langkah yang perlu dilakukan. Menurut G. Y. Jenkins (2005), langkahnya adalah sebagai berikut :

1.    Kegiatan Merencanakan Produk

Kegiatan pertama yang perlu dilakukan yakni adanya perencanaan produk baik berupa barang/ jasa yang bisa dipublikasikan terlebih dahulu melalui poster atau pamflet. Sebelumnya, peserta didik sudah harus merancang terkait anggaran dana yang dibutuhkan dalam proses pembuatannya. Termasuk halnya teknik pengerjaan serta alur kerja. 

2.    Kegiatan Melaksanakan Produksi

Kemudian, kegiatan kedua yakni melaksanakan produksi. Pada kegiatan ini peserta didik akan diajak untuk masuk pada tahapan produksi yang sudah direncanakan baik berupa barang maupun jasa. 

3.    Kegiatan Mengevaluasi Produk

Setelah itu, guru juga mengajak perserta didik untuk melakukan teknik evaluasi. Evaluasi yang dijalankan berdasar perencanaan yang sudah dibuat dan hasil yang sudah ada. Termasuk halnya mengkaji secara teknis pembuatan produk. 

4.    Kegiatan Menyusun Strategi Pemasaran

Kemudian para guru dapat mengajak peserta didik untuk melakukan kegiatan penyusunan pada saat pemasaran produk yang sudah dibuat. 

Demikian ulasan mengenai model pembelajaran Production Based Training dan beberapa sintaks pembelajarannya. (*)

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(shd/shd)




Share :

Baca Juga

Metode Pembelajaran

Ide Menciptakan Lingkungan Belajar yang Nyaman untuk Siswa SMA: Membuka Ruang Kritik yang Membangun

Media Mengajar

Mengenal Model Pembelajaran Problem Solving

Metode Pembelajaran

Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning pada Kurikulum Merdeka
asemen di awal pembelajaran

Metode Pembelajaran

Langkah Menerapkan Asesmen di Awal Pembelajaran

Edutainment

Metode Time-Out: Terbiasa di Pembelajaran hingga Sehari-hari

Edutainment

Mau Pembelajaran Lebih Menyenangkan? Coba Cara Ini!

Metode Pembelajaran

Memahami Pembelajaran Eksperiential Learning melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Media Mengajar

Efektivitas Penggunaan Teknologi Internet sebagai Media Pembelajaran
Download Sertifikat Pendidikan Gratis