Home / News

Selasa, 17 Mei 2022 - 00:17 WIB

Poin Plus dan Minus ASN Work From Anywhere (WFA)

Dibaca 694 kali

Pemerintah sedang mengkaji rencana penerapan Work from Anywhere (WFA) bagi aparatur sipil negara (ASN). Kebijakan tersebut sedang ditelaah setelah pemerintah mengklaim berhasil menerapkan praktik Work from Office (WFO) dan Work from Home (WFH) selama pandemi COVID-19. Kepala Biro Hukum, Humas dan Kerjasama Badan Kepegawaian Negara (BKN), Satya Pratama menuturkan, penerapan kebijakan WFA akan membuat para ASN fleksibel saat bekerja. Rencana ini dianggap akan efektif mengingat selama pandemi sistem kerja WFO dan WFH berjalan dengan baik dan berhasil.

Seperti yang dikatakan oleh Satya kalau tujuan work from anywhere (WFA) ialah meningkatkan kinerja dan kepuasan ASN dalam bekerja, sekaligus meningkatkan efektivitas dan efisiensi birokrasi pemerintahan.

Satya menegaskan ASN bisa melakukan WFA selama kinerja dan target pekerjaan tercapai. Akan tetapi, Satya menegaskan bahwa unit kerja yang bersinggungan langsung dengan pelayanan publik, dan tugas dan fungsinya menuntut kehadiran di kantor, tetap diberlakukan WFO. ASN yang tetap harus WFO antara lain tenaga medis, pemadam kebakaran, Satpol PP, pengawas perikanan, petugas lalu lintas hingga petugas pemasyarakatan.

Satya menjelaskan bahwa tidak semua pekerjaan di ASN bisa WFA dan perlu dikaji lebih lanjut.

Pemerhati kebijakan publik dari Universitas Padjajaran, Yogi Suprayogi menilai, kebijakan WFA merupakan bentuk lain dari flexible working home (FWH) atau bisa bekerja di mana pun. Pada umumnya, FWH berlaku saat orang bekerja di rumah atau di kantor. Yogi sebut, aksi WFA positif bagi ASN karena meningkatkan pelayanan ASN.

Yogi memberikan opini kalau flexible working home (FWH) atau work from anywhere (WFA) optimis bisa lebih baik. Namun harus dilihat terlebih dahulu layanannya.

  • Poinnya adalah hampir 80% lebih responden menyatakan bahwa pemberlakukan kebijakan WFH membuat mereka dapat melakukan kegiatan yang mendukung aktivitas kerja dan dapat meningkatkan partisipasi antar pekerja. 73,8% responden menyatakan bahwa pelayanan lembaga/instansi tempat mereka bekerja yang diberikan kepada user (pimpinan/opd lain/masyarakat) semakin optimal ketika diberlakukannya fleksibilitas bekerja serta capaian organisasi semakin meningkat dengan adanya fleksibilitas dalam bekerja (74,9%).
  • Fleksibilitas membuat responden puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan (90,3%) lantaran fleksibilitas dalam bekerja membuka peluang atau kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan diri (88,8%).
  • Tak Bisa Diterapkan di Semua Sektor

Yogi menuturkan, riset tersebut membuktikan efektivitas WFA. Akan tetapi, WFA tidak bisa diterapkan di semua sektor pemerintahan. Ia menilai ada sektor yang tidak boleh menerapkan WFA. Pertama adalah pelayanan dasar seperti kesehatan atau pendidikan. Ia mencontohkan tantangan tenaga kesehatan memeriksa secara teliti atau membiarkan pasien melakukan pelayanan sendiri. Meskipun Indonesia sudah mengenal konsep telemedisin, tapi pelayanan kesehatan yang optimal memerlukan kemampuan khusus agar pelayanan publik tidak salah penanganan. Kedua adalah soal karakteristik daerah yang berbeda-beda. Yogi beralasan, kemampuan teknologi daerah berbeda-beda sementara pelayanan konsep WFA perlu teknologi yang mumpuni. Ia mencontohkan ada daerah tidak bisa mengirimkan dokumen karena faktor koneksi internet. “Jadi kita lihat juga kemampuan daerah tersebut. Jadi nggak bisa diberlakukan secara umum semuanya, tapi dicoba parsial dulu,” kata Yogi. Sementara itu, terkait dengan masih ada sejumlah kasus ASN nakal, Yogi tidak memungkirinya. Ia menyinggung kasus ASN di Jayapura yang mangkir saat bertugas hingga bertahun-tahun. Akan tetapi, masalah tersebut bisa diselesaikan oleh BKN. “Itu masalah pendataan saja. Itu pernah ada yang menanyakan ke saya. Itu masalah pendataan di BKN sebetulnya. Jadi ada sebetulnya kasus seperti itu. Itu sebenarnya masalah pendataannya,” kata Yogi.

  • Dasar Hukumnya Sudah Ada

Research and Policy Analyst Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP) Riko Noviantoro menilai, kebijakan WFA memang sudah harus diterapkan. Hal tersebut sudah menjadi tren di luar negeri dalam proses pelayanan publik. Indonesia sudah punya sistem dan payung hukum lewat Perpres 95 tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). “Secara prinsip itu berarti boleh, benar. Artinya nggak ada regulasi yang melarang pemerintah karena sudah ada sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE). Itu ada Perpresnya. Dasar hukumnya ada sehingga bisa dilaksanakan. Hanya kemudian yang penting adalah pada hal-hal tertentu yang sifatnya direct services,” kata Riko kepada reporter Tirto. Riko mencontohkan, pelayanan direct services seperti pelayanan SIM, KTP, STNK hingga pelayanan dokumen lain seperti KITAS. Ia beralasan pelayanan tersebut butuh tempat spesifik dan petugas khusus sehingga tidak bisa melaksanakan WFA. Selain pelayanan direct services, ASN yang bekerja di sektor kritikal seperti isu pangan, keuangan hingga keamanan tidak bisa bekerja WFA. Ia mencontohkan, kerentanan serangan siber bisa berdampak buruk ketika pekerja keamanan sedang melakukan rapat atau pertukaran dokumen. Peretas bisa mengambil dokumen penting yang ditransmisikan secara daring.

“Yang lainnya bisa, boleh saja. Misalnya yang bisa apa? Fungsi-fungsi rutin soal gaji, kemudian rapat-rapat internal yang sifatnya untuk kepentingan internal tentang program-program, gak apa-apa bisa dilakukan sama seperti kita Zoom hari ini. Maka aku lebih suka sebutnya trennya birokrasi hybrid artinya hybrid itu ada yang satu harusnya offline dan online,” tutur Riko.

  1. Hal positif ketika WFA dilakukan:
  2. Pertama, pemerintah akan lebih mudah melakukan koreksi internal kinerja ASN.
  3. Kedua, pemerintah akan lebih mudah dalam penataan administrasi. Ia tidak memungkiri soal klaim Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa WFA akan mengurangi beban negara. Namun, ia pesimistis pemerintah akan menurunkan “harga pelayanan” yang dipatok pemerintah dalam berbagai kegiatan.

Riko pun menilai kebijakan WFA tidak bisa asal langsung di semua daerah. Pelaksanaan harus dilakukan secara parsial dan belum secara langsung di semua wilayah. Senada dengan Yogi, tidak semua daerah memiliki kemampuan yang sama seperti masalah jangkauan internet hingga perilaku masyarakat.

  • Di sisi lain, kemampuan pengawasan ASN tiap daerah juga berbeda-beda ketika WFO maupun WFH sebelum menuju pelaksanaan WFA. Oleh karena itu, ia menyarankan ada kolaborasi metode seperti dua hari WFA dan tiga kali WFO.
  • Maka dari itu sekarang formnya hybrid. Jika mau full WFA, maka harus menyiapkan sistem yang lebih optimal. Supaya setiap daerah harus punya keunikan masing-masing karena tiap daerah tidak bisa disamakan dengan Jakarta. Takutnya tiap daerah sulit untuk menyesuaikan. Dengan mewanti-wanti apabila bisa melakukan WFA, tetapi kemudian penerima layanannya tidak bisa. Dikarenakan tidak semua warga kita lietrasi digitalnya cukup memadai.

Dapatkan informasi guru terupdate dengan Join channel telegram: https://t.me/wartagurudotid

Penulis: WDS




Share :

Baca Juga

photo by kemdikbud.go.id

News

Peraturan Baru,Tenaga Honorer yang Diangkat PPPK Part Time Sudah Tak Pakai PDH dan Kerja di Kantor, Dengan Alasan ini…

News

Update Terbaru, Benarkah Lulusan PPG Bakal Jadi Guru di Daerah 3T? Simak Penjelasannya
PGRI Desak Pemerintah Tuntaskan 1,6jt TPG

News

PGRI Mendesak Pemerintah Tuntaskan TPG 1,6 Juta Guru
Pendaftaran guru PPPK tahun 2023

News

Pendaftaran PPG Daljab 2023 Diperpanjang, Berikut Jadwalnya

News

Pentingnya Digitalisasi Pendidikan serta Plus Minusnya

News

Akan Dihapus? Nasib THR dan Gaji Ke-13 Berada Diujung Tanduk

News

Update Terbaru NI PPPK Guru 2022

News

Jika PMM Tidak Tuntas Tunjangan Sertifikasi Guru Tidak Dibayarkan?