Home / Kesiswaan

Selasa, 7 Juni 2022 - 13:41 WIB

Guru Wajib Paham! Inilah Strategi Mengatur Emosi Siswa

Dibaca 983 kali

Mengatur Emosi – Di dunia pendidikan, pertengkaran mudah saja terjadi antar peserta didik. Hal ini sudah menjadi kewajaran.

Apalagi di era kebijakan pendidikan yang sudah beralih menjadi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) maka seorang guru pasti tidak asing lagi dengan fenomena demikian. Amarah para peserta didik memiliki tingkatan level yang berbeda – beda.

Ada yang amarahnya muncul manakala diejek maupun dibully dan akhirnya meredam tersebab teman mereka mengucapkan maaf. Namun fenomena lainnya, ada peserta didik yang mulai naik pitam hingga pertengkaran fisik tidak dapat dicegah.

Berawal dari pertengkaran fisik tersebut, biasanya menyebabkan kedua peserta didik mengalami cedera dan bahkan berujung kematian. Nah, sadis, bukan? Maka dari itu, sebagai guru, selain mendidik anda juga berpeluang untuk menjadi psikolog pribadi peserta didik terlebih dalam hal mengatur emosi.

Memaknai Emosi

Sebelum mengkaji lebih lanjut mengenai cara mengatur emosi, sebaiknya anda memahami terlebih dahulu definisi sederhana dari emosi. Emosi merupakan suatu perasaan yang ada di dalam diri individu. Hal tersebut sangat berperan penting di kehidupan sehari – hari.

Emosi sendiri terdiri dalam berbagai wujud yakni seperti perasaan senang, bahagia, sedih maupun amarah merupakan bentuk dari emosi.

Secara psikologi, emosi bisa dimaknai sebagai respons yang otak berikan secara instan. Manusia secara fitrah tidak dapat memilih emosi yang dia rasakan. Hanya saja, perwujudan emosi akan bersifat merusak alias destruktif bila emosi tersebut diungkapkan dengan jalan yang tidak cermat dan tepat.

Misal, seorang peserta didik wajar bersedih bila mendapat nilai yang buruk padahal ia sudah berjuang sekuat tenaga mendapat nilai terbaik. Namun, ketika kesedihannya malah beralih menjadi perasaan ingin marah kepada guru lantaran nilainya yang jelek, tentu hal tersebut salah dan tak bisa dibenarkan.

Hanya saja, hari ini, makna emosi lebih cenderung diistilahkan pada seseorang yang sedang mengalami persentase kenaikan pada level amarahnya.

Itulah yang dinamakan emosi sekarang. Sebagaimana yang terlihat dalam kehidupan sehari – hari, sesekali seseorang akan melibatkan amarah dalam penyelesaian permasalahan, sebab mereka merasa bahwa dirinya merupakan orang yang paling benar.

Perilaku seperti ini memang sering terlihat pada orang dewasa sebab mereka juga sudah memiliki kematangan berfikir.

Hanya saja, perilaku negatif yang demikian telah menjadi teladan bagi para generasi di bawah usianya termasuk para generasi di negeri ini. Bahkan di banyak tayangan, sosial media maupun pemberitaan cetak, generasi mulai membawai peran utama sebagai aktor yang paling terdepan menggunakan amarah.

Misalnya pertengkaran antar kaum pelajar yang berbeda sekolah, bahkan ada juga pertengkaran yang terjadi sebab rebutan belahan jiwa? Padahal jika dinalar, mereka ini adalah para kaum remaja. Mereka adalah para punggawa bangsa.

Amarah yang meledak, bahkan sampai akhirnya mengundang adanya kerusakan di sekitar peserta didik yang beramarah akan menyebabkan kekhawatiran sendiri baik bagi dirinya sendiri, orangtua, guru serta lingkungan sekitar tempat dia berinteraksi.

Melansir dari beberapa pakar psikologis, amarah yang mudah meledak harus menjadi perhatian khusus supaya di masa depan tak menyebabkan bahaya yang cukup signifikan. Jika yang mudah marah yakni anak – anak di usia TK mungkin kemarahannya masih tergolong amarah yang wajar dan mereka terlihat lucu.

Namun jika dibiasakan, maka kebiasaan tersebut akan berlangsung sampai akhirnya mereka menjadi dewasa seperti sekarang.

Strategi Mengendalikan Amarah

Sebagai guru yang berkompeten, meski bidang anda bukan psikologi, namun mau tak mau anda dituntut untuk memahami psikologi dasar perkembangan anak seusia yang diajar agar bisa menetapkan strategi penyelesaiannya. Misal, terkait strategi dalam mengendalikan amarah.

Guru harus mencoba memahamkan terlebih dahulu kepada para peserta didik terkait makna dari emosi sendiri berikut dengan penjelasan amarah. Kemudian mengajarkan dan membina peserta didik untuk bisa mengendalikan emosi termasuk amarah yang dimiliki peserta didik. Adapun strategi mengendalikan amarah diantaranya yakni :

1.    Memilih dan Memilah Situasi

Strategi pertama yang bisa dilakukan peserta didik yakni dengan mencoba aktivitas memilih dan memilah situasi. Biasanya, seseorang marah lantaran dipantik atau mendapatkan suatu masalah yang amat mengganggu ketenangan.

Sehingga, peserta didik merasa bahwa dirinya harus marah sebagai bentuk pertahanan diri. Maka dari itu, guru perlu untuk menanamkan dalam diri peserta didik agar mereka bisa menempatkan diri serta menahan gejolak amarah yang ada dalam jiwa.

Di awal, prakteknya tentu sangat sulit. Sebab tidak semua peserta didik dapat melakukan hal demikian. Pahamkan peserta didik untuk pintar dan bijak dalam memilih situasi jika sedang marah.

2.    Membangun Kemandirian Peserta Didik

Strategi lainnya yakni guru harus belajar untuk bisa mengajarkan peserta didik memiliki kemandirian dan rasa tanggung jawab. Dua karakter ini sangat berkaitan dengan pengendalian amarah dalam jiwa mereka.

Misal, mengajarkan peserta didik dengan pemberian studi kasus terkait peningkatan sikap mandiri dan bertanggung jawab. Selain itu, guru juga dapat mengajak peserta didik untuk melihat berbagai dampak negatif yang diakibatkan amarah yang berlebihan.

3.    Guru Mengajarkan Peserta Didik untuk Mengalihkan Fokus

Kemudian, strategi lainnya, guru mengajarkan peserta didik untuk belajar mengalihkan fokus pada hal yang menyebabkan amarahnya memuncak. Salah satu fenomena peserta didik yang sering mengalami kemarahan bisa terjadi sebab merasa ada temannya yang lebih unggul daripada dirinya sendiri.

Sehingga hal tersebut menjadikan peserta didik marah dan malah sampai ingin menyerang temannya. Maka guru bisa mengajarkan peserta didik untuk mengalihkan fokus perhatian dari yang awalnya iri dan marah akibat kenikmatan yang temannya miliki menjadi fokus untuk perbaikan dan peningkatan potensi diri.

Di era kecanggihan teknologi hari ini, sangat penting bagi para peserta didik mengeksplorasi segala potensi melalui kemudahan pada akses teknologi. Misal dengan membuka website, maupun mencoba peruntungan untuk membuat konten video menginspirasi. Bisa juga dengan mengadakan kumpul bersama, sehingga hati akan terasa lebih tenang.

Anda bisa juga memberikan rekomendasi pada peserta didik untuk membaca buku sebagai pengalih fokus. Selain itu membaca buku akan menjadikan mereka memiliki wawasan baru dan luas. Hal tersebut jauh lebih baik, bukan?

4.    Guru Mengajarkan Peserta Didik untuk Memahami Konsep Mindfulness

Salah satu strategi yang bisa dilakukan oleh guru yakni mengajarkan konsep mindfulness. Mindfulness adalah upaya atau perlakukan yang mana seseorang dapat melatih fokusnya pada keadaan sekitar dan emosi yang dimiliki.

Tujuannya, agar peserta didik dapat menerima keadaan serta pengalaman yang terjadi pada dirinya. Selain itu, konsep tersebut akan membina peserta didik menjadi seseorang yang bisa mengubah kekakuan hati serta perasaan yang ia miliki pada temannya.

Demikian ulasan mengenai strategi mengatur emosi sehingga guru dan peserta didik dapat melakukan pembelajaran dengan maksimal.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

(shd/shd)

Share :

Baca Juga

Kesiswaan

Cara Daftar KIP Kuliah 2024 dan Syaratnya

Kesiswaan

Sekolah Inklusi, Apa Bedanya dengan SLB?

Kesiswaan

Kemenag :Pesantren Penerima Dana PIP Terserap 100%
Menulis artikel populer

Kesiswaan

Mengenal Sistem Pendidikan Terbuka

Kesiswaan

Konsep Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Literasi dan Numerasi

Kesiswaan

Kasus Bullying di Sekolah: Lebih Berpengaruh ke Mental

Kesiswaan

Perkembangan dan Kesejahteraan Anak

Kesiswaan

Yuk Simak Kurikulum Paradigma Baru pada Sekolah Menengah Atas