Kepala sebuah SMP negeri di Tangerang Selatan menyatakan sekolah telah melakukan penelusuran dan pembinaan terkait dugaan perundungan yang menimpa 14 siswi kelas VIII sebelum kasus itu viral di media sosial. Pernyataan ini disampaikan kepada Kompas.com terkait rangkaian penanganan yang dilakukan sekolah.
Langkah awal sekolah setelah menerima laporan
Kepala sekolah, Kunardi, mengatakan pengaduan dari orangtua diterima pada Senin, 12 Oktober 2026 malam. Menurutnya, pada Rabu, 14 Oktober 2026, ia menugaskan tim Bimbingan dan Konseling (BK) untuk menggali informasi dari pihak terkait.
“Sebelum viral sekolah sudah melakukan langkah-langkah komunikasi, pembinaan dan pendampingan terhadap kasus tersebut,” kata Kunardi kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp.
Tim BK melakukan penelusuran pada 14–15 Oktober 2026. Selanjutnya, pada Jumat, 16 Oktober 2026, sekolah memanggil orangtua siswa yang terlibat untuk membangun komunikasi dan kolaborasi pengawasan. Hasil penelusuran kemudian dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangerang Selatan pada 19 Oktober 2026, menurut keterangan kepala sekolah.
Pembinaan, jalur luar sekolah dan pencegahan
Kunardi menyampaikan sekolah melaksanakan pembinaan bagi siswa yang diduga terlibat maupun siswa lain sebagai langkah pencegahan. Ia menegaskan penanganan kasus yang melibatkan siswa harus mengacu pada regulasi yang berlaku, termasuk penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) dan prosedur penanganan masalah di sekolah.
Namun, kepala sekolah juga menyatakan dugaan perundungan terjadi di luar lingkungan sekolah dan di luar jam belajar. Dalam kasus seperti itu, Kunardi menilai alur hukum di luar sekolah harus ditempuh oleh orangtua sesuai mekanisme yang berlaku, sementara sekolah tetap memberi pendampingan untuk meminimalkan dampak terhadap proses belajar.
- Pengaduan awal diterima orangtua pada 12 Oktober 2026.
- Tim BK menelusuri kejadian pada 14–15 Oktober 2026 dan memanggil orangtua pada 16 Oktober 2026.
- Hasil penelusuran dilaporkan ke Dindikbud Kota Tangerang Selatan pada 19 Oktober 2026.
Kasus yang kemudian menjadi viral memperlihatkan kompleksitas penanganan kejadian yang menimpa peserta didik ketika batas antara lingkungan sekolah dan ruang privat di luar jam belajar kabur. Pernyataan kepala sekolah yang dikutip Kompas.com menekankan pentingnya koordinasi antara sekolah, orangtua, dan dinas pendidikan dalam langkah penelusuran, pembinaan, dan pelaporan.
Pihak sekolah menyebutkan langkah pembinaan dilaksanakan untuk menjaga semangat belajar siswa dan mengurangi aktivitas di luar sekolah yang dianggap tidak bermanfaat atau berisiko. Sekolah juga menempatkan pembinaan khusus untuk siswa kelas VIII dan kelas IX sebagai bagian dari tindak lanjut penanganan kasus tersebut.